![]() |
| Dr. Musthofa Kamal ketika jadi pembicara (Foto ist.) |
Damariotimes.
Di sudut-sudut kedai kopi di Malang, seringkali menjumpai pemandangan yang tak
biasa. Di antara kepulan asap rokok dan aroma kopi yang pekat, tampak seorang
pria dengan pembawaan yang tenang namun sarat karisma, duduk melingkar bersama
anak-anak muda dari komunitas teater. Pria itu adalah Dr. Musthofa Kamal, atau
yang lebih akrab disapa oleh teman-teman Sinau Teater sebagai Gus Kamal. Ia
bukanlah sosok akademisi yang menjaga jarak di balik tembok kampus yang kaku.
Sebaliknya, Gus Kamal adalah wujud nyata dari intelektual yang membumi, seorang
doktor kajian budaya dari ISI Yogyakarta yang menjadikan ruang-ruang diskusi
informal sebagai laboratorium hidup bagi perkembangan dunia teater. Baginya,
setiap ajakan untuk mengopi bersama komunitas teater di Malang adalah perintah
yang tak mungkin diabaikan. Di sanalah, di tengah obrolan yang mengalir, ia
membedah ilmu drama, menyambungkan teori-teori akademis yang berat dengan
realitas panggung yang dinamis, menjadikannya santapan intelektual yang renyah
bagi generasi muda.
Keseharian Dr. Musthofa Kamal di Universitas Negeri Malang
sebagai pengajar bahasa Indonesia memberikan dimensi tersendiri bagi kiprahnya
di dunia seni peran. Sebagai seorang akademisi yang hidup dengan diksi,
artikulasi, dan intonasi setiap harinya, panggung teater menjadi ruang ekspresi
yang sempurna baginya. Ia tidak hanya memahami struktur kalimat secara
gramatikal, tetapi ia mampu menghidupkan kalimat tersebut agar memiliki
"nyawa" saat diucapkan di atas panggung. Maka tidak mengherankan jika
beliau selalu sigap ketika ada tawaran bermain dalam drama modern bernuansa
semi-tradisi. Baginya, sebuah teks drama yang indah akan jauh lebih berdaya
guna ketika dikemas dalam laku sandiwara yang matang, di mana setiap kata
memiliki bobot dan kedalaman makna yang mampu menyentuh relung hati
penontonnya.
![]() |
| Dr. Musthofa Kamal ketika berakting (Foto ist.) |
Kecintaan Gus Kamal pada seni tradisi bukanlah kecintaan
yang dangkal. Ia melabuhkan riset mendalamnya pada Wayang Topeng Malangan,
sebuah warisan leluhur yang agung. Tesisnya yang mengangkat tajuk "Wayang
Topeng Malangan: Sebuah Historis Sosiologis" menjadi bukti otentik betapa
seriusnya ia menjaga marwah kesenian lokal. Salah satu hal yang paling memikat
dari diskursusnya adalah ketika ia membahas lakon Walang Wali Walang Sumirang. Ini adalah lakon sakral
yang jarang dipentaskan oleh kelompok Wayang Topeng pada umumnya karena
kerumitan dan kedalaman maknanya. Namun, Gus Kamal mampu mengurainya dengan
cermat. Hal ini menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pengamat, melainkan juga
penjaga tradisi yang memahami esensi di balik setiap gerak dan tutur dalam
kesenian klasik.
Kemampuan analisis yang tajam ini kemudian berpadu dengan
kepiawaiannya dalam berbicara. Ide-ide kolaborasinya kerap mengalir bak pemain
ludruk yang lihai berimprovisasi. Ceplas-ceplosnya akurat, logikanya jernih,
dan gaya bicaranya selalu enak didengar. Hal ini sangat terasa ketika ia tampil
dalam Pelatihan Teater Tradisi di Taman Krida Budaya pada tanggal 14 hingga 15
April 2026. Di hadapan para seniman muda Jawa Timur, Gus Kamal memaparkan
makalah tentang dinamisasi dalam pemajuan seni tradisi dengan penuh semangat.
Ia tampil bukan layaknya dosen yang sedang memberikan kuliah membosankan,
melainkan sebagai seorang Tonil
Direktur—istilah yang mengingatkan kita pada sosok sutradara ludruk tempo
dulu—yang mampu menggerakkan audiens dengan energi dan gagasannya.
Aura multitalenta yang dimilikinya memang sulit untuk
disembunyikan. Dalam dunia teater, Gus Kamal dikenal sebagai aktor sekaligus
pemikir drama modern yang "ngabehi" atau berwibawa. Kemampuan
aktingnya yang mumpuni, didukung oleh kualitas suara yang mantap dan daya hayat
yang luar biasa, telah diakui oleh para pelaku seni profesional. Salah satunya
adalah Cak Marsam Hidayat, sutradara sekaligus pimpinan Lerok Anyar asal
Gondanglegi. Di mata Cak Marsam, Gus Kamal adalah sosok ikonik dalam peran
Kendo Kenceng yang sudah sangat kental dengan nuansa rasa ludruk. Bahkan, Cak
Marsam secara terang-terangan mengakui keinginan besarnya untuk mengkasting Gus
Kamal sebagai pemeran antagonis dalam pementasan Lerok Anyar, sebuah bukti
bahwa kepiawaian aktingnya diakui oleh mereka yang benar-benar hidup dari napas
kesenian tradisi.
Sosok seniman akademisi seperti Dr. Musthofa Kamal adalah
anugerah bagi ekosistem kesenian di Indonesia. Di tengah arus modernisasi yang
kadang menggerus akar budaya, kehadiran sosok intelektual yang mau merendahkan
hati untuk berbaur dengan seniman akar rumput adalah sebuah oase. Ia
menyegarkan kembali kesenian tradisi bukan dengan cara mengonservasinya di
dalam museum, melainkan dengan memberinya sokongan pemikiran yang dinamis.
Dengan sentuhan ide-ide cerdas yang selaras dengan kebutuhan masyarakat
pendukungnya, kesenian tradisi tidak hanya akan bertahan hidup, tetapi akan
terus membumi dan relevan. Gus Kamal telah membuktikan bahwa antara kampus dan
panggung, antara teori dan praktik, serta antara tradisi dan modernitas, tidak
perlu ada jarak, selama di sana ada hati yang tulus untuk terus menghidupkan
seni sebagai bagian tak terpisahkan dari napas kemanusiaan.
Konteributor:
Cak Marsam


Posting Komentar untuk "Gus Kamal; Sang Akademisi yang Menghidupkan Tradisi di Panggung Sandiwara"