Catatan Kebangkitan Ludruk Generasi Muda di Taman Krida Budaya

 


Para narasumber pada pelatihan Teater Tradisional (Foto ist,)


Damariotimes. Malang, 14 April 2026. Pendopo Taman Krida Budaya Malang yang megah di Jalan Soekarno-Hatta menjadi saksi bisu sebuah peristiwa budaya yang sarat akan semangat pembaruan. Selama dua hari, tepatnya pada Selasa dan Rabu, 14-15 April 2026, suasana di jantung Kota Malang tersebut terasa lebih hidup dengan kehadiran para seniman muda dari berbagai penjuru Jawa Timur. Kegiatan Pelatihan Teater Tradisi yang diinisiasi oleh UPT Laboratorium Pengembangan Pelatihan Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, ini bukan sekadar rutinitas program kerja, melainkan sebuah jembatan penting yang menghubungkan warisan masa lalu dengan dinamika masa depan.

Di tengah riuhnya antusiasme peserta, kehadiran kelompok Lerok Anyar di bawah kepemimpinan Cak Marsam Hidayat mencuri perhatian. Sebagai bentuk regenerasi nyata, Lerok Anyar memberikan kepercayaan kepada lima tunas muda untuk menyelami lebih dalam samudra ilmu teater tradisi. Mereka adalah Hendra Kurniawan dari Wajak, Enjel sang tandhak asal Dampit, Reza Bagas Setyo Anggoro dari Pakis, Tri Wandono dari Kromengan, dan Galuh Fitri Khalida dari Wonosari. Kelima perwakilan ini membawa misi besar untuk menyerap kearifan dari para pakar dan membawanya pulang sebagai bekal menghidupkan kembali kesenian rakyat di wilayah masing-masing.

Dinamika pelatihan ini menjadi sangat kaya berkat kehadiran tiga narasumber yang memadukan perspektif akademis dan praktis. Dr. Musthofa Kamal, M.Sn., seorang akademisi dari Universitas Negeri Malang, memberikan landasan teoretis mengenai pentingnya dinamisasi dalam pertunjukan. Baginya, seni tradisi tidak boleh menjadi artefak yang statis dan kaku. Karena selera masyarakat terus bergerak, maka teater tradisi pun harus berani beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Pesan ini disambung dengan bedah teknis oleh Dohir Herlianto Sindu, seorang pakar teater modern, yang dengan rinci memilah fungsi dan bentuk seni. Melalui pemaparannya, para peserta diajak memahami apakah seni yang mereka geluti berfungsi sebagai hiburan semata, alat propaganda, atau bahkan sebagai sumber penghidupan, serta bagaimana bentuknya harus dikemas secara kreatif dan inovatif agar tetap relevan di panggung kontemporer.

Melengkapi perspektif tersebut, Cak Sabil Lestari hadir mewakili suara praktisi yang telah lama bergelut di panggung ludruk. Dengan nada yang lugas, ia menyoroti sikap apatis yang terkadang menghinggapi seniman tradisi. Menurutnya, ketakutan untuk berubah justru menjadi ancaman terbesar yang dapat menyebabkan ludruk kehilangan pasarnya. Ketiga narasumber ini pada akhirnya bermuara pada satu kesepakatan krusial, yaitu kebutuhan akan sosok sutradara yang cerdas dan berani. Sutradara adalah nahkoda yang harus mampu membaca arah angin zaman dan menentukan kapan saatnya melakukan inovasi agar perahu tradisi tetap melaju kencang di tengah arus modernitas.

Gairah belajar para peserta yang berusia antara 18 hingga 40 tahun ini terbukti sangat luar biasa. Diskusi yang awalnya dijadwalkan berakhir pada pukul sepuluh malam, justru berkembang menjadi obrolan "gayeng" dan mendalam hingga pukul satu dini hari. Suasana pendopo yang dingin tertutup oleh hangatnya pertukaran pikiran. Bagi para peserta, momen ini adalah ajang silaturahmi yang tak ternilai harganya. Tri Wandono, misalnya, mengungkapkan rasa harunya karena bisa bertemu dengan sesama seniman se-Jawa Timur. Meskipun awalnya tidak saling mengenal, kebersamaan selama dua hari tersebut menciptakan ikatan emosional yang kuat, di mana mereka bisa saling bertukar wawasan dan keresahan mengenai masa depan kesenian.

Pengalaman serupa dirasakan oleh Reza Bagas dan Hendra Kurniawan. Bagi mereka, pelatihan ini memberikan fasilitas untuk memahami teknis penguasaan panggung yang lebih matang, termasuk mempelajari hal-hal yang harus dihindari saat melakukan pertunjukan ludruk asli. Sementara itu, Enjel dan Galuh merasakan bahwa wawasan mereka kini jauh lebih luas. Galuh secara khusus menekankan bahwa fasilitas yang diberikan oleh Lerok Anyar telah memungkinkan mereka untuk menggali potensi individu melalui diskusi-diskusi yang saling mengisi kekurangan satu sama lain. Harapan kolektif mereka hanya satu: agar warisan budaya daerah ini tidak punah dan tetap bisa dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan yang inspiratif tersebut, sebuah simbolisme penting dilakukan oleh Cak Marsam Hidayat. Sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih kepada UPT Laboratorium Pengembangan dan Pelatihan Kesenian, beliau menyerahkan dua buku berharga mengenai lakon ludruk serta kreativitas dan inovasi ludruk di Kabupaten Malang. Penyerahan buku ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pesan bahwa pendokumentasian pemikiran adalah kunci agar estafet pengetahuan tidak terputus.

Melalui pelatihan dua hari ini, tersirat sebuah optimisme baru bagi dunia teater tradisi di Jawa Timur. Ketika para seniman muda sudah mulai berani membuka diri terhadap perubahan, dan para senior terus dengan telaten menularkan ilmunya, maka kekhawatiran akan punahnya ludruk perlahan akan sirna. Kebangkitan ini lahir dari pendopo-pendopo latihan, dari diskusi malam yang tak kunjung usai, dan dari keberanian para pemuda untuk terus "nandhak" dan bercerita di tengah hiruk-pikuk dunia milenial. Tradisi, di tangan mereka, tidak lagi dipandang sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai identitas yang membanggakan dan penuh gaya.

 

Konteributor : Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Catatan Kebangkitan Ludruk Generasi Muda di Taman Krida Budaya"