Menjaga Nadi Ibu Pertiwi dari Gempuran Modernisasi Zaman


Sany Repriandini, penggerak PBN Malang (Foto ist.)


Damariotimes. Nasionalisme sering kali didefinisikan melalui narasi-narasi besar seperti pertahanan kedaulatan wilayah atau kemajuan ekonomi yang gemilang. Namun, jika kita menyelami lebih dalam ke palung jiwa bangsa, sejatinya kadar cinta seseorang terhadap tanah airnya dapat diukur dari seberapa kuat ia memeluk kebudayaan ibunya sendiri. Di tengah pusaran globalisasi yang membawa derasnya arus budaya asing, identitas anak bangsa seolah sedang berada di persimpangan jalan. Budaya luar hadir layaknya ombak besar yang siap menggilas apa pun yang rapuh, mencoba mengganti ornamen asli Nusantara dengan nilai-nilai yang asing dan tak jarang bertolak belakang dengan kepribadian kita.

Di tengah kegelisahan itulah, muncul sebuah oase perlawanan yang lembut namun tegar: Gerakan Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN). Gerakan ini bukan sekadar perkumpulan perempuan yang gemar bersolek, melainkan sebuah suara lantang yang menentang segala bentuk penjajahan gaya baru. Mereka adalah barisan perempuan yang tidak rela melihat wajah Indonesia kehilangan rona aslinya. Bagi mereka, membiarkan budaya lokal mati dan digantikan oleh budaya asing yang tidak mencerminkan jatidiri bangsa adalah sebuah pengkhianatan terhadap warisan leluhur. PBN berdiri kokoh sebagai benteng budaya, mengingatkan kita bahwa penjajahan tidak selalu datang dengan senjata, tetapi sering kali masuk melalui gaya hidup dan cara berpakaian yang perlahan-lahan mencabut akar identitas kita dari tanah tumpah darah.

Resmi berdiri pada 7 Maret 2020, Perempuan Bersanggul Nusantara mengusung visi yang sangat spesifik dan mendalam, yakni melestarikan busana tradisi Nusantara yang meliputi sanggul, kebaya, dan jarit. Ketiga elemen ini bukanlah sekadar kain dan tatanan rambut, melainkan simbol martabat dan keanggunan perempuan Indonesia yang telah ada sejak berabad-abad silam. Misi mereka adalah sebuah ajakan bagi seluruh perempuan Indonesia untuk berani kembali pada jatidiri bangsa dengan mengenakan busana adat Nusantara dalam berbagai lini kehidupan. Melalui busana, PBN ingin menunjukkan bahwa kecantikan sejati perempuan Indonesia memancar dari kesetiaan mereka pada akarnya.



PBN: Kegitan di Kampung budaya Palawijen (Foto ist.)


Di wilayah Malang Raya, pergerakan ini terasa begitu dinamis dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. PBN Malang Raya secara aktif jemput bola, mendatangi sekolah-sekolah, sanggar seni, hingga komunitas budaya untuk menjalin kolaborasi yang erat. Mereka sadar bahwa menanamkan cinta budaya tidak bisa dilakukan hanya di dalam ruang tertutup. Harus ada sentuhan langsung dan dialog budaya yang intens agar busana adat kembali membudaya. Anggota PBN merasa terusik saat melihat identitas anak negeri mulai tercabut. Hati mereka pedih menyaksikan wajah wanita Indonesia seolah "diberangus" oleh doktrin-doktrin semu yang menjadi hantu, yang terus-menerus mencoba menjajah pikiran dan gaya hidup wanita-wanita Indonesia. Melalui gerakan ini, mereka berharap para wanita segera sadar dan kembali mencintai "budaya ibu" sebelum semuanya terlambat.

Gerakan ini tidak berjalan sendirian di menara gading. Perempuan Bersanggul Nusantara terus membaur dan melebur dengan para pegiat budaya lainnya. Mereka merapat ke Kampung Budaya Polowijen, menyambangi Kampung Cempluk, hingga rutin menghadiri acara Padang Bulan di Kafe Mesem yang digagas oleh budayawan Ki Soleh Adi Pramono. Aktivitas mereka di sana jauh lebih dalam dari sekadar tamasya atau sekadar mencicipi makanan tradisional. Di sana, mereka belajar menari Topeng, mendalami nembang macapat, hingga meresapi ngidung Jula-Juli dan bermain ludruk.

Di balik aktivitas seni tersebut, ada pesan kuat yang dibawa oleh Ibu Sany Repriandini bersama para ibu lainnya. Mereka ingin menyuarakan ajakan yang tulus kepada para wanita muda agar tidak malu mengenakan busana adat Nusantara. Ibu Sany menekankan bahwa jangan sampai generasi muda menjadi orang asing di negeri sendiri hanya karena lebih bangga mengenakan atribut bangsa lain. PBN ingin memastikan bahwa kebaya dan jarit tetap memiliki tempat terhormat di tengah hiruk-pikuk gaya modernitas, sehingga identitas bangsa tetap tegak berdiri.

Perjuangan yang dilakukan oleh Ibu Sany Repriandini beserta seluruh jajaran PBN adalah sebuah dedikasi yang wajib kita dukung bersama. Pergerakan ibu-ibu cantik ini bukanlah sebuah pencitraan atau aksi panggung belaka, melainkan wujud nyata dari kecintaan yang mendalam terhadap nilai-nilai luhur budaya Indonesia. Mereka adalah pengingat bahwa di pundak kitalah tanggung jawab untuk menjaga dan merawat kekayaan warisan leluhur itu diletakkan. Siapa lagi yang akan memedulikan warisan ini jika bukan kita sendiri? Dengan kesadaran kolektif serta kemampuan yang kita miliki, mari kita bangun kembali jatidiri bangsa yang sempat tergerus. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya menghargai sejarahnya, tetapi juga bangga memakai "kulit" dan identitas budayanya sendiri di hadapan dunia.

 

Konteributor: Cak Marsam

1 komentar untuk "Menjaga Nadi Ibu Pertiwi dari Gempuran Modernisasi Zaman"

  1. Saya setuju dengan artikel diatas bahwa bangsa yang besar merupakan bangsa yang selalu menggali dan melestarikan budayanya sebagai identitas

    BalasHapus