![]() |
| perbedaan cara belajar di era yang berbeda (Sumber AI) |
Damariotimes.
Pendidikan merupakan perjalanan abadi manusia untuk memahami dunia dan dirinya
sendiri, namun kendaraan yang digunakan untuk perjalanan tersebut telah berubah
secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Perbedaan ini menciptakan jurang
pemisah yang jelas antara dua generasi, yaitu Generasi Baby Boomers, yang lahir
antara tahun 1946 dan 1964, serta Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan
2012. Jika kita membayangkan sebuah ruang kelas di era 1970-an, suasananya akan
sangat berbeda dengan ruang kelas modern saat ini.
Kondisi Belajar Gen Z: Lahir di Era
Digital yang Serba Instan
Berbeda
dengan generasi sebelumnya, Generasi Z adalah generasi pertama yang benar-benar
tumbuh sebagai penduduk asli dunia digital, atau Digital Natives. Mereka
tidak pernah mengenal dunia tanpa kehadiran internet, ponsel pintar, atau media
sosial yang selalu terhubung. Kondisi mendasar ini secara fundamental telah
membentuk sirkuit otak dan preferensi belajar mereka.
Bagi
anak-anak Gen Z, informasi tidak lagi menjadi sesuatu yang langka atau sulit
didapat; sebaliknya, informasi sekarang berlimpah dan tersedia secara instan
dalam hitungan detik. Situasi ini telah mengubah mereka menjadi tipe pembelajar
yang sangat visual dan interaktif. Gen Z cenderung lebih cepat menyerap informasi
melalui konten video pendek, infografis, dan simulasi interaktif dibandingkan
melalui teks panjang yang statis. Mereka juga secara alami terbiasa melakukan multitasking,
seperti membuka banyak tab di browser sambil mendengarkan musik saat
mengerjakan tugas, dan secara bersamaan membalas pesan. Pola ini menciptakan
pendekatan belajar On-Demand, di mana mereka hanya akan mempelajari apa
yang mereka butuhkan pada saat mereka membutuhkannya, menjadikan respon pertama
mereka terhadap masalah adalah "Cari di Google" atau "Tonton
tutorialnya."
Dahulu dan Sekarang: Peran Buku Teks
dan Orientasi Otoritas Guru
Perbedaan
paling tajam antara pendekatan belajar Gen Z dan Baby Boomers terlihat jelas
dalam bagaimana mereka berinteraksi dengan buku teks dan bagaimana mereka
menempatkan posisi seorang guru dalam proses pembelajaran.
Pada
era Generasi Baby Boomers, yang dapat disebut sebagai "Generasi Emas
Kertas," buku teks adalah sumber pengetahuan utama yang bersifat
otoritatif. Buku dianggap sebagai gudang ilmu yang suci, dan aktivitas membaca,
menggarisbawahi dengan highlighting, serta merangkum dari buku teks
adalah metode belajar yang paling valid dan paling dihormati. Otoritas ilmu
bersemayam di dalam teks fisik tersebut. Dalam situasi ini, orientasi peran
guru juga sangat jelas; guru berdiri sebagai pusat pembelajaran, atau Teacher-Centered.
Guru dianggap sebagai satu-satunya pemilik dan penyampai pengetahuan tunggal di
dalam kelas. Murid-murid mendengarkan ceramah, mencatat dengan rapi, dan
mengikuti setiap instruksi tanpa banyak bertanya, karena kepatuhan terhadap
otoritas guru adalah sesuatu yang mutlak.
Situasi
cara belajar di zaman Gen Z telah bergeser secara radikal dari model otoritas
tersebut menuju model kolaborasi. Gen Z tidak lagi melihat guru sebagai satu-satunya
pemilik ilmu yang sah, karena mereka menyadari bahwa ilmu ada di mana-mana di
internet. Konsekuensinya, orientasi peran guru pun berubah. Mereka tidak lagi
membutuhkan guru untuk menjadi sosok "Sajak di Atas Panggung" yang
hanya memberikan ceramah satu arah, tetapi mereka lebih membutuhkan guru untuk
berfungsi sebagai fasilitator dan mentor. Guru yang efektif bagi Gen Z adalah
mereka yang bisa menjadi "Pemandu di Samping" untuk membantu
murid-muridnya memfilter lautan informasi yang tersedia, mengajarkan cara
berpikir kritis, dan memberikan umpan balik cepat serta dukungan emosional yang
personal.
Otoritas vs. Kolaborasi: Pergeseran
Makna Kegagalan
Perbedaan
suasana belajar ini mencerminkan landasan filosofis yang berbeda. Di era Baby
Boomers, situasi belajar didasarkan pada rasa hormat yang mendalam terhadap
otoritas dan struktur. Belajar adalah proses mengumpulkan pengetahuan yang
valid dari satu sumber tunggal. Kegagalan untuk mengikuti instruksi tepat
seperti yang disampaikan guru sering kali dianggap sebagai kegagalan dalam
belajar itu sendiri.
Sebaliknya,
di era Generasi Z, situasi belajar didasarkan pada prinsip kolaborasi,
eksplorasi Mandiri, dan pendekatan Learning by Doing, atau belajar
sambil melakukan. Ruang belajar mereka tidak lagi terbatas pada empat dinding
kelas; itu bisa terjadi di kafe yang ramai, kamar tidur pribadi, atau melalui
ruang diskusi virtual. Gen Z sangat menghargai guru yang bisa diajak berdiskusi
sebagai mitra dalam pembelajaran, bukan seorang tiran yang sekadar mendiktekan
materi.
Pergeseran
drastis ini bukanlah tentang menilai pendekatan mana yang lebih baik atau lebih
buruk. Kondisi Baby Boomers telah menciptakan generasi yang disiplin, tangguh,
dan memiliki kemampuan literasi mendalam. Kondisi Gen Z telah menciptakan
generasi yang adaptif, kreatif, dan mahir dalam navigasi teknologi.
Tantangan
bagi sistem pendidikan hari ini adalah bagaimana menciptakan model yang bisa
menjembatani kedua dunia ini. Guru harus bertransformasi menjadi mentor digital
yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menarik minat Gen Z, sambil tetap
menanamkan nilai-nilai fundamental berpikir kritis dan etika yang dulu kuat di
era Baby Boomers. Gen Z mungkin tidak lagi berorientasi pada buku fisik, tetapi
mereka bisa didorong untuk berorientasi pada kualitas informasi, di mana guru
memiliki peran krusial sebagai kompas utama dalam perjalanan belajar mereka.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Memahami Pergeseran Gaya Belajar Gen Z dari Era "Kertas dan Guru""