![]() |
| Mak Yar: Masa tua bintang legendaris Ludruk Malang Selatan (Foto ist.) |
Damarioitmes.
Bagi masyarakat pencinta seni tradisi di wilayah Malang Raya, khususnya yang pada
saat ini telah menginjak usia antara enam puluh hingga delapan puluh tahun,
nama Ngatiyar tentuk bukan sosok yang asing bagi mereka. Beliau yang lebih
akrab disapa dengan panggilan Mak Yar ini adalah personifikasi hidup dari
kejayaan ludruk Malang Selatan. Di usianya yang kini telah menyentuh angka
sembilan puluh tahun, Mak Yar tetap berdiri tegak sebagai saksi sejarah
sekaligus tandak ludruk legendaris yang masih mencintai jagat seni pertunjukan
ludruk di Malang; saya sanggat bergembira jika ada orang yang masih mau
mendengar kisah tentang ludruk. Ucapnya sambil mengingat masa kejayaannya
sebagai bintang panggung.
Mak
Yar dilahir dan besar di Desa Sepanjang, beliau membawa ruh seni pertunjukan dalam
setiap gerak geriknya. Perjalanan panjangnya di panggung ludruk yang
ditekuninya sejak tahun 1955. Waktu itu , Malang Selatan menjadi pusat pertumbuhan
seni pertunjukan ludruk dengan
berdirinya perkumpulan ludruk "Malang Selatan" yang sangat legendaris.
Di sanalah Ngatiyar muda mulai mengasah bakatnya, bersanding dengan nama-nama
besar yang menjadi primadona pada masanya seperti Hari, Buang, Samingun, Kadim,
Sanut, dan Lasi. Panggung demi panggung beliau lalui, hingga namanya mulai
harum sebagai tandak yang tidak hanya pandai menari, tetapi juga piawai dalam
urusan estetika busana, terutama dalam membuat pakaian Remo yang menjadi ciri
khas pembuka pertunjukan ludruk.
![]() |
| Mak Yar (sebelah kiri) ketika masa muda sebagai tandhak Ludruk (Foto ist.) |
Ambisi
dan kecintaannya pada ludruk membawa Mak Yar melampaui batas-batas desa.
Setelah melanglang buana bersama grup Anoraga dan Putra Bhakti, sebuah tonggak
sejarah baru tercipta pada tahun 1971. Bersama rekan-rekan seperjuangannya
seperti Kadim, Hari, Abdul Ghani, Buang, Chattam, dan Subur, Mak Yar membidani
lahirnya Ludruk PERSADA Malang. Grup yang bermarkas di Desa Banjarejo,
Kecamatan Pagelaran ini segera bertransformasi menjadi "rumah" bagi
para seniman hebat berkarakter kuat. Ludruk PERSADA menjadi magnet bagi
talenta-talenta luar biasa, mulai dari eks-pemain Ludruk Marhen hingga deretan
nama populer seperti Ismail, Jauhari, Benny Wahyudi, hingga Bagor Mustajab.
Di bawah bendera PERSADA, Mak Yar mendapatkan tempat istimewa melalui peran-peran yang sulit digantikan oleh orang lain. Salah satu pencapaian aktingnya yang paling fenomenal adalah saat ia memerankan sosok Mbok Sakera. Peran ini menuntut kedalaman rasa dan karakter yang kuat, sebuah tantangan yang hanya bisa ditaklukkan oleh tandak dengan jam terbang tinggi. Selain itu, publik selalu merindukan penampilannya sebagai "Mbok Ndesa" saat berpasangan dengan Pak Buang Sabar Arif. Hubungan panggung antara Mak Yar dan Pak Buang sering disebut sebagai pasangan paling ideal dalam sejarah ludruk Malang. Chemistry mereka begitu organik, seolah-olah penonton tidak sedang melihat sebuah akting, melainkan melihat kehidupan nyata yang dipindahkan ke atas panggung.
Kepiawaian
Mak Yar sebagai pemain profesional teruji ketika ia tampil di luar kandang.
Kenangan manis tercipta saat ia menjadi bintang tamu di Ludruk Subur Budaya
yang mentas di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Di pusat kesenian Jawa Timur
tersebut, Mak Yar dan Pak Buang berhasil menghipnotis penonton selama satu jam
penuh. Meski hanya berperan sebagai pasangan desa, dialog-dialog spontan yang
mereka lontarkan begitu menggelitik dan segar. Tak ada rasa bosan yang merayap
di bangku penonton; yang ada hanyalah gelak tawa dan tepuk tangan meriah yang
memenuhi ruangan. Kemampuan Mak Yar dalam mengolah kata dan merespons lawan
main menunjukkan betapa kreatifnya ia dalam menghidupkan suasana pertunjukan.
Meski
raga kian dimakan usia, nyala api kreativitas dalam diri Mak Yar tidak pernah
padam. Hal ini terbukti pada tahun 2017, saat ia terlibat dalam pementasan
kolaborasi Ludruk Lerok Anyar bersama seniman kondang Didik Nini Thowok di
Gedung Gajayana Malang. Di usia yang saat itu sudah delapan puluh tahunan, Mak
Yar berperan sebagai Buyut Suruh dalam lakon Sawunggaling, berpasangan dengan
Cak Wito HS. Penampilannya tetap memukau, lincah, dan penuh improvisasi. Daya
hayal dan spontanitasnya yang khas menunjukkan bahwa kualitas seorang maestro
tidak akan lekang oleh waktu. Penonton kembali dibuat terkesima oleh energi
yang terpancar dari sosok seniman lintas generasi ini.
Kini,
di masa tuanya, Mak Yar menikmati hidup yang tenang bersama anak dan cucunya di
Desa Sepanjang. Namun, status "pensiun" hanyalah untuk urusan fisik
di atas panggung. Secara batiniah, ia tetap menjadi rujukan utama bagi generasi
muda. Rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan para tandak muda yang haus akan
ilmu dan pengalaman. Dengan tangan terbuka dan semangat yang masih berkobar,
Mak Yar selalu bersedia berbagi rahasia menjadi seorang tandak profesional.
Baginya, menjadi tandak di masa lalu adalah sebuah kehormatan besar, sebuah
profesi yang mampu melekatkan nama seorang seniman di hati sanubari masyarakat.
Dedikasi
Ngatiyar selama tujuh dekade lebih adalah bukti nyata dari sebuah pengabdian
tulus. Ia bukan sekadar pemain peran; ia adalah penjaga nyala api tradisi agar
tidak padam di tengah gempuran zaman. Perjalanan panjang dari panggung-panggung
desa hingga gedung kesenian bergengsi telah mengukuhkan posisinya sebagai
legenda hidup. Lewat kisah hidupnya, kita belajar bahwa seni tradisi akan tetap
abadi selama ada jiwa-jiwa seperti Mak Yar yang bersedia memberikan seluruh
hidupnya untuk terus bercerita, menghibur, dan menginspirasi melalui panggung
ludruk.
Konteributor: Cak Marsam


Posting Komentar untuk "Dedikasi Tanpa Batas Mak Yar dalam Seni Pertunjukan Ludruk Malang"