![]() |
| Wissata Edukatif di Kampung Kramik Dinoyo (Foto ist.) |
Damariotimes.
Malang 26 Nopember 2025. Pagi menjelang siang di Kota Malang, pada hari ini terasa
membawa getaran semangat yang berbeda. Seolah-olah, setelah pertemuan intensif
20 perwakilan kampung tematik di MCC beberapa hari sebelumnya—sebuah forum yang
difasilitasi oleh Disporapar dengan visi "menjemput wisatawan Gen
Z"—energi baru menyelimuti sudut-sudut kota. Fokus utama keramaian hari
ini terpusat pada tiga urat nadi budaya yang dialiri langsung oleh Kali
Brantas: Kampung Keramik Dinoyo, Kampung Gerabah Penanggungan, dan Kampung
Warna-Warni Jodipan.
Di
Kampung Keramik Dinoyo, aroma tanah liat dan cat seolah menjadi parfum
alami yang menarik perhatian akademisi. Dua kelompok mahasiswa dari ITN tampak
sibuk memetakan kontras antara pengolahan keramik yang masih dipertahankan
secara manual dengan sentuhan proses mekanik modern. Tak kalah penting,
mahasiswa Jurusan PAUD Ummuh Surabaya turun tangan melakukan pendataan, mencari
tahu praktik-praktik edukasi apa saja yang paling efektif dan menyenangkan
untuk dikembangkan. Ketua kampung, Syamsul Arifin, dengan bangga menceritakan
hiruk pikuk 70 rombongan anak SMP Tamiriyah Surabaya yang sedang asyik
"bermain" tanah liat, membentuk dan mewarnai karya keramik mereka
sendiri. Momen ini bukan hanya kunjungan, melainkan laboratorium hidup bagi
mahasiswa untuk mengobservasi kebutuhan edukasi berbasis keramik.
![]() |
| Wisaawan Mancanegara terhibur oleh tampilan mhs PSP FS UM (Foto ist.) |
Sementara
itu, di hulu tradisi, Kampung Gerabah Penanggungan menjadi titik temu
pelestarian warisan kuno. Mahasiswa dari kampus-kampus besar seperti UB, UMM,
UM, dan Widyagama berdatangan, bukan sekadar melihat, melainkan untuk kembali
memperkenalkan seni kerajinan tangan paling lawas di kota apel ini: gerabah.
Ketua Kampung, Haryono, berbagi kekhawatiran dan harapan: “Semangatnya Kampung
Gerabah Penanggungan itu melestarikan tradisi kerajinan gerabah yang
pengrajinnya tinggal satu kelompok, 4–6 orang saja.” Di tengah gempuran wadah
modern, Haryono, seniman gerabah tunggal Kota Malang yang paling eksis,
menyaksikan kebangkitan kembali. Gerabah kini dicari bukan hanya sebagai
fungsi, tetapi sebagai properti dekorasi yang membawa kehangatan dan nilai
historis. Kunjungan ini adalah sebuah janji bahwa tradisi itu tidak akan mati,
melainkan terus diwariskan melalui tangan-tangan muda.
Menyeberang
ke sisi lain Brantas, suasana perayaan yang lebih artistik membentang di Kampung
Warna-Warni Jodipan. Jurusan Pendidikan Seni Tari dan Musik UM menggelar
perhelatan unik yang mereka sebut Slakec (Slametan Kecil-Kecilan). Ini
adalah ritual sederhana namun penuh makna: wujud syukur dan doa bersama dari
para mahasiswa seni pertunjukan. Di tengah ruang publik yang berwarna cerah,
beberapa hidangan diletakkan, dikelilingi oleh kelompok yang duduk melingkar
dalam keheningan yang hangat—cukup tumpeng kecil, jajanan tradisional, dan
minuman yang menjalin rasa kebersamaan. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Robby
Hidajat, M.Sn., perayaan ini berlanjut menjadi tarian di tepian sungai. Para
mahasiswa, dalam balutan busana ala-ala Korea, menari, dan yang paling
menarik, tarian ini diikuti oleh beberapa wisatawan mancanegara. Ketua Kampung,
Agus Kodar, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya: “Suasana sangat seru
meriah,” katanya, menjelaskan bagaimana keramaian harian turis asing yang
mencapai 200–300 orang seketika terlibat dalam pertunjukan seni spontan.
Di
lokasi yang terpisah, energi edukasi juga berdenyut di Kampung Budaya
Polowijen. Dua kelompok dari UM dan UB terlihat sudah "menguasai"
area pawon (dapur umum), merencanakan agenda “sambang kampung sinau budaya”
yang akan membawa teman-teman sekelas mereka untuk belajar langsung dari akar
kebudayaan setempat.
Secara
keseluruhan, hari itu di Malang bukanlah hari biasa. Ini adalah manifestasi
nyata dari kampung tematik sebagai ruang hidup yang dinamis bukan sekadar objek
wisata, melainkan laboratorium budaya dan edukasi yang menjalin benang merah
antara akademisi, pengrajin, seniman, dan komunitas global. Ia menjadi saksi
bahwa di tengah modernitas, semangat melestarikan warisan melalui interaksi
yang hidup dan kreatif masih bersemayam kuat di jantung kota.
Reporter : R.Dt.


Keren! manifestasi nyata dari kampung tematik sebagai ruang hidup yang dinamis bukan sekadar objek wisata, melainkan edukasi antara akademisi, pengrajin, seniman, dan komunitas global
BalasHapusLuar biasa! Baik di kampung keramik Dinoyo, kampung gerabah penanggungan, dan kampung warna-warni jodipan pada hari itu juga bukanlah hari yang biasa du Malang. Tetapi suatu manifestasi nyata dari kampung tematik sebagai tuan hidup yang dinamis, tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga pengrajin, seniman, dan komunitas global.
BalasHapus