Transformasi Kurikulum Seni Pertunjukan: Menjawab Tantangan Industri Kreatif di Era Society 5.0


Poster kegiatan seminar di PSP 2026 (Foto ist.)


Damariotimes. Di tengah pesatnya laju digitalisasi dan transformasi global, dunia pendidikan seni kini dihadapkan pada tuntutan adaptasi yang lebih gesit agar tetap relevan. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Negeri Malang secara strategis menyelenggarakan diskusi akademik bertajuk "Kurikulum OBE dalam Pendidikan Seni Pertunjukan: Menjawab Tantangan Industri Kreatif & Society 5.0". Agenda ini menjadi wadah krusial bagi para akademisi dan praktisi pendidikan untuk membedah bagaimana penerapan Outcome-Based Education (OBE) dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem seni pertunjukan guna mencetak lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan industri.


Foto bersama, dosen PSP dan narasumber (Foto ist.)



Kegiatan yang berlangsung pada hari Rabu, 29 April 2026 ini, menempati Gedung A14 Lantai 2, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Sejak pagi hari, suasana akademik terasa begitu kental, mempertemukan para pemangku kepentingan pendidikan untuk mendiskusikan paradigma baru dalam pengajaran seni. Fokus utama dari diskusi ini adalah menggeser pola pikir pendidikan dari sekadar pemenuhan materi kurikulum menjadi pencapaian hasil pembelajaran yang terukur dan aplikatif, sesuai dengan semangat Society 5.0 di mana teknologi dan kreativitas manusia harus berjalan beriringan.

Diskusi ini semakin berbobot dengan kehadiran narasumber ahli yang memiliki perspektif luas, yakni Dr. Tutung Nurdiyana, S.Sos., M.A., M.Pd. dari Universitas Airlangga, serta Puji Astutik, S.Pd. yang mewakili praktisi pendidikan dari SMPN 23 Malang. Kolaborasi antara pakar akademis dan praktisi di lapangan ini memberikan dimensi yang komprehensif, mulai dari teori hingga implementasi praktis di bangku sekolah. Proses dialog yang berlangsung pun dipandu dengan apik oleh moderator Wecya Sugevin, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Malang, yang memastikan alur diskusi tetap tajam dan fokus pada relevansi pendidikan seni dalam menjawab tantangan ekonomi kreatif saat ini.

Melalui seminar ini, diharapkan para peserta dapat membawa pulang wawasan baru mengenai pentingnya kurikulum yang berorientasi pada hasil nyata. Pendidikan seni pertunjukan diharapkan mampu bertransformasi menjadi kekuatan besar yang menjadi motor penggerak inovasi di era modern. Dengan kurikulum yang tepat, lulusan pendidikan seni diharapkan mampu menjadi profesional yang tangguh, kreatif, dan mampu bersaing dalam kancah industri kreatif yang semakin kompetitif dan berteknologi tinggi.

 

Reporter : R.Dt.

 

9 komentar untuk "Transformasi Kurikulum Seni Pertunjukan: Menjawab Tantangan Industri Kreatif di Era Society 5.0"

  1. Artikel diatas menegaskan bahwa kurikulum seni pertunjukan perlu bertransformasi menjadi berbasis hasil (OBE) agar mampu mencetak lulusan yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan tuntutan industri kreatif di era Society 5.0.

    BalasHapus
  2. Naslihna Fatimah A.4 Mei 2026 pukul 03.27

    Menurut saya, artikel ini memberikan wawasan bahwa pendidikan seni pertunjukan harus terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai budaya dan kreativitas sebagai identitas utamanya.

    BalasHapus
  3. Transformasi kurikulum seni pertunjukan diperlukan untuk menyesuaikan era digital, mengintegrasikan teknologi tanpa hilangkan akar budaya.

    BalasHapus
  4. artikel diatas sangat bermanfaat dan menarik

    BalasHapus
  5. Sosok pemimpin yang inspiratif. Pak Sutrisno membuktikan bahwa pembangunan desa akan jauh lebih kokoh jika didasari oleh jejak intelektual dan pelestarian budaya yang kuat. Teladan bagi desa-desa lain di Kabupaten Malang.

    BalasHapus
  6. Transformasi yang sangat krusial. Memang sudah saatnya kurikulum seni pertunjukan bersinergi dengan tantangan industri kreatif agar lulusan kita tidak hanya mahir secara estetika, tapi juga adaptif secara teknologi.

    BalasHapus
  7. pentingnya kurikulum yang berorientasi pada hasil nyata. Pendidikan seni pertunjukan diharapkan mampu bertransformasi menjadi kekuatan besar yang menjadi motor penggerak inovasi di era modern.

    BalasHapus
  8. Artikel ini sangat relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini. Artikel ini menunjukkan bahwa kurikulum seni pertunjukan tidak hanya berfokus pada teori dan praktik seni, tetapi juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, kreativitas digital, dan kebutuhan industri kreatif. Penerapan OBE (Outcome-Based Education) menjadi langkah yang baik agar mahasiswa memiliki keterampilan yang lebih adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era Society 5.0.

    BalasHapus