Cahyo Yudha Pradana Penerus Denyut Nadi Karawitan Malangan


Cahyo Yudha Pradana pengendang karawitan Malangan (Foto ist.)


Damariotimes. Di balik megahnya dentum gamelan yang bergema di sudut-sudut kota Malang, terdapat sebuah estafet kebudayaan yang terus dijaga dengan penuh dedikasi. Nama besar Mbah Sumantri sebagai seorang maestro karawitan Malang bukan sekadar legenda yang terkubur waktu, melainkan sebuah semangat yang terus hidup melalui sosok cucunya, Cahyo Yudha Pradana. Pria yang akrab disapa Dhana ini bukanlah sekadar penerus secara biologis, melainkan pewaris tunggal yang menyimpan api kreativitas sang kakek di dalam sanubarinya. Sejarah panjang yang ia ukir hari ini bukanlah hasil dari paksaan, melainkan buah dari panggilan jiwa yang telah tumbuh sejak ia masih dalam balutan masa kanak-kanak.

Dhana lahir dengan nama yang membawa doa dan harapan besar. Cahyo berarti cahaya, Yudha bermakna perang, dan Pradana adalah yang pertama. Jika disatukan, namanya mengandung filosofi mendalam: cahaya yang menerangi peperangan dalam meraih kemenangan. Sejak usia tiga tahun, ketertarikan Dhana pada dunia karawitan sudah tampak nyata. Telinganya seolah memiliki magnet tersendiri terhadap suara gamelan yang merdu. Uniknya, meski tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan seni, Dhana bukanlah anak yang dipaksa oleh kakeknya untuk memegang kendang atau menabuh gong. Semuanya mengalir secara natural. Sebagai seorang anak yang pemalu, ia sering kali merasa canggung jika harus bermain di bawah tatapan sang kakek. Ada cerita unik di masa kecilnya, di mana ia pernah ngambek hingga berhari-hari hanya karena merasa diawasi saat berlatih. Namun, keraguan itu perlahan luntur seiring dengan berjalannya waktu.

Saat menginjak bangku Taman Kanak-kanak (TK), bakat dan kecerdasan Dhana dalam bermusik tak lagi bisa disembunyikan. Ia menunjukkan kepekaan ritme yang luar biasa. Puncaknya, ketika salah satu Sekolah Dasar di kota Malang memerlukan seorang pengendang untuk lomba tingkat Jawa Timur, Dhana yang kala itu masih duduk di bangku TK justru diminta menjadi penyelamat. Kepercayaan itu dibayar lunas dengan penampilan memukau yang mengantarkannya meraih predikat Pamurbo Terbaik di level provinsi. Sejak saat itu, perjalanan seni Dhana mulai menapaki jalan yang lebih serius. Kegemarannya bermain di ruang karawitan membawanya pada keterlibatan aktif dalam ekstrakurikuler sekolah, dan saat duduk di kelas 3 SD, ia sudah dipercaya mengiringi pertunjukan Ludruk Lerok Anyar di Taman Krida Budaya Malang.

Bimbingan Mbah Sumantri menjadi kunci utama dalam pertumbuhan Dhana. Sang kakek, dengan kejelian seorang maestro, melihat potensi besar dalam diri cucunya. Setiap kali Mbah Sumantri mengajar, baik di sekolah maupun saat melatih kelompok PKK, Dhana selalu diajak serta. Proses "osmosis" budaya ini terjadi secara tidak sadar; ilmu, teknik, dan kreativitas sang kakek merasuk ke dalam memori Dhana melalui pengamatan langsung di lapangan. Ketajaman intuisi ini terus terasah hingga saat ia duduk di bangku SMP Negeri 18 Malang. Dhana tidak lagi hanya menjadi pengiring, melainkan sudah dipercaya menjadi Penata Musik dalam Festival Musik Tradisional tingkat provinsi Jawa Timur, di mana ia berhasil membawa prestasi dalam ajang talenta Paguyuban Pelestari Seni Tradisi (PPST). Bahkan, kolaborasi kreatifnya dengan sang kakek pada masa itu membuktikan bahwa ia telah siap melangkah sejajar, menantang dirinya sendiri dengan tawaran menata musik kelas mahasiswa di Universitas Negeri Malang.

Namun, roda kehidupan berputar. Tahun 2018 menjadi tahun yang paling emosional bagi Dhana. Mbah Sumantri berpulang di tengah hajatan ulang tahun Dimas Yoga Pratama dan Adhitya Jayawardhana, putra dari sahabat karibnya, Cak Marsam Hidayat. Kepergian sang maestro akibat serangan jantung meninggalkan duka mendalam, sekaligus pesan wasiat yang menjadi pegangan hidup Dhana. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Mbah Sumantri sempat berpesan kepada Cak Marsam: "Nek Lerok Anyar pentas, adikmu ajaken." Pesan sederhana itu menjadi kompas bagi Dhana untuk terus melibatkan diri dalam setiap pementasan Lerok Anyar.

Tak hanya piawai di balik instrumen musik, Dhana membuktikan versatilitasnya sebagai seniman. Pada tahun 2023, ia dinobatkan sebagai Penari Remo Terbaik dalam Gelar Festival Ludruk Jatim Anti Narkoba di Gedung Mahameru Polda Jatim. Kini, sosoknya telah tumbuh menjadi pengendang muda yang sangat sibuk. Kebiasaan kakeknya yang gemar melakukan "lelaku" atau begadang untuk berkreasi, kini mendarah daging dalam diri Dhana. Baginya, begadang bukanlah sekadar menghabiskan waktu dengan kopi bersama teman, melainkan bentuk dedikasi obsesif untuk merawat dan memajukan karawitan serta Macapat Malangan.

Sebagai kreator di Sanggar Widyaloka Among Roso yang terletak di Kelayatan, Sukun, Kota Malang, Dhana mewarisi seperangkat gamelan laras pelog dan slendro, peninggalan sang kakek. Ia memikul tanggung jawab besar untuk menjaga nyala api seni tersebut agar tidak padam. Namanya kini semakin moncer, dihormati oleh para dalang kondang seperti Ki Tantut Sutanto, Ki Setyo Wahyudi, hingga Ki Nasikin. Ia juga menjadi figur penting dalam proses kreatif di berbagai sanggar wayang topeng di Malang Raya.

Kini, Dhana telah menjadi sosok panutan bagi rekan-rekannya. Alumni sekaligus pelatih karawitan di SMA Negeri 7 Malang ini tidak hanya mewarisi keterampilan, tetapi juga visi besar. Setiap Selasa dan Jumat, Sanggar Widyaloka Among Roso menjadi rumah bagi mereka yang ingin belajar, menjaga, dan mengembangkan warisan leluhur. Cahyo Yudha Pradana telah membuktikan bahwa cahaya yang dulu dinyalakan oleh kakeknya tidak hanya terus menyala, tetapi semakin benderang, menuntun jalan bagi keberlangsungan seni tradisi di kota Malang agar tetap membumi dan lestari.

 

Konteributor: Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Cahyo Yudha Pradana Penerus Denyut Nadi Karawitan Malangan"