Deva Akbar Resman: Menjaga Denyut Nadi Seni Pertunjukan Lokal di Malang


Dewa Akbar Resman menerima piagam (Foto ist.)


Damariotimes. Di tengah bentang geografis wilayah Malang bagian timur laut, yang meliputi Tumpang, Jabung, Glagah Dowo, hingga Gubuk Klakah, kesenian tradisional bukan sekadar artefak masa lalu. Di kawasan inilah, denyut nadi tradisi terus berdenyut, dijaga oleh tangan-tangan muda yang penuh dedikasi. Salah satu sosok yang menjadi representasi generasi muda dalam arus pelestarian ini adalah Deva Akbar Resman. Ia bukan sekadar seniman muda yang sekadar "ikut-ikutan" meramaikan panggung, melainkan seorang penggerak yang secara sungguh-sungguh menyelami kedalaman filosofi dan teknis kesenian, khususnya Kendangan gerak Topeng Malang.

Perjalanan Deva dalam dunia kesenian mencapai titik penting pada tahun 2018, ketika ia mendirikan Sanggar Seni Mantraloka di desa kelahirannya. Sanggar ini bukanlah entitas musiman yang muncul saat ada pesanan pertunjukan atau "teropan". Mantraloka hadir sebagai sebuah oase bagi mereka yang ingin belajar dengan serius. Di Pendopo Ageng yang berdiri megah, Deva bersama para punggawanya melakukan upaya "mendudah" atau menggali kembali mantra-mantra kuna yang sarat dengan ajaran budi pekerti luhur. Langkah ini adalah bentuk upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan moral yang selama ini terkandung dalam kesenian wayang topeng, menjadikannya relevan sebagai panduan hidup di era modern.

Sanggar Mantraloka berfungsi layaknya Kawah Candradimuka bagi para seniman muda. Di tempat ini, Deva berhasil menciptakan ekosistem kreatif yang mempertemukan berbagai latar belakang, mulai dari pangrawit muda berbakat dengan pendidikan formal hingga mereka yang belajar secara otodidak. Keberagaman ini menjadi kekuatan tersendiri karena Mantraloka terbuka bagi siapa saja yang ingin mendalami berbagai gaya gending. Mulai dari kelembutan Gending Gagrak Surakarta, ketegasan irama Yogyakarta, dinamika gending Sunda, hingga akselerasi khas Banyuwangi dan Jawa Timuran, khususnya Gending Malangan, semuanya dipelajari dengan saksama.

Tidak mengherankan jika Sanggar Mantraloka kerap menjadi titik temu bagi seniman akademisi, termasuk lulusan dari ISI Surakarta dan STKW Surabaya, untuk berdiskusi, berlatih, dan merumuskan langkah strategis dalam memajukan kesenian Malang. Deva sendiri memiliki kepribadian yang supel dan haus akan ilmu. Ia dikenal sebagai satu-satunya "Panjak nom" dari Jabung yang sangat menghargai para tetua. Kebiasaannya sowan ke rumah para tokoh budayawan Malang bukan sekadar formalitas saat Idul Fitri, melainkan sebuah agenda rutin untuk meminta saran, bimbingan, dan mengundang mereka untuk sekadar ngopi bareng di Sanggar Mantraloka guna mendiskusikan masa depan Wayang Topeng Malang.

Kemampuan Deva Akbar Resman dalam seni musik tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah seniman multitalenta. Meskipun ia dikenal sangat prigel atau mahir dalam memainkan Kendang Jawa Timuran dan Jaipongan, ia juga menguasai hampir seluruh instrumen gamelan dengan sangat luwes. Keahliannya meliputi penguasaan Gender, Gambang, Siter, Suling, Rebab, Saron, hingga Bonang. Semua instrumen tersebut ia mainkan dengan pemahaman yang benar akan pakem dan rasa.

Sebagai putra daerah asli Malang, gaya kendangannya memiliki karakter yang sangat kental dengan rasa Arema. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang yang ia tempuh sejak kecil. Deva kecil sudah "nyantrik" di Padepokan Seni Mangun Dharma, di mana ia menimba ilmu langsung dari Ki Soleh Adi Pramana. Selain itu, ia juga mendapatkan fondasi musikal yang kuat dari Cak Suharyanto saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kombinasi antara didikan para maestro dan eksplorasi mandirinya membentuk sosok Deva yang matang secara teknis dan emosional.

Dalam komunitas Pangrawit Muda Malang, Deva sering dijuluki sebagai "Panjak NGABEHI". Sebutan ini merujuk pada sosok pangrawit yang rajin belajar dan memiliki jejaring yang sangat luas. Berkat ketangkasannya, ia kini kerap dipercaya sebagai Penata Gending dalam berbagai pertunjukan Wayang Topeng, baik dalam skema acara festival, teropan, hingga pertunjukan eksperimental yang disaksikan oleh para seniman dan budayawan ternama. Perannya sebagai penata gending membuktikan bahwa ia mampu menerjemahkan ide-ide kreatif ke dalam komposisi musik yang utuh.

Ketekunan dan kedisiplinan Deva Akbar Resman dalam mendalami gending dan kendangan Malangan adalah sebuah teladan bagi generasinya. Baginya, memahami budaya ibu bukan sekadar hobi, melainkan kewajiban mutlak bagi seorang seniman kreatif. Di tangan anak muda seperti Deva, kesenian tradisional Malang membuktikan bahwa dengan akar yang kuat pada tradisi lokal, seorang seniman mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Mantraloka, melalui Deva, kini menjadi simbol harapan bahwa api tradisi Malangan akan terus menyala, dijaga oleh generasi yang memahami esensi dari setiap gebrakan yang dihasilkan.

 

Konteributor: Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Deva Akbar Resman: Menjaga Denyut Nadi Seni Pertunjukan Lokal di Malang"