![]() |
| penciptaan motif batik Malang (Foto ist.) |
Prof. Dr. Robby Hidajat,M.Sn.
Damariotimes.
Batik bukan sekadar media kriya tekstil melainkan manifestasi material dari
nilai budaya Jawa yang sarat pesan simbolis. Dalam konteks pembangunan
identitas daerah Kota Malang, rancangan motif Batik Sekar Jagad Panca Warna dihadirkan
sebagai identitas kebersamaan di tengah keragaman karya perajin lokal yang
tumbuh secara sporadis. Melalui prosfektif teori struktural fungsionalis yang
dipelopori oleh Talcott Parsons dan Émile Durkheim,yang selama ini menjadi cara
pandang penelitian penulis.
Kebudayaan
beserta simbol-simbol sosial di dalamnya berfungsi sebagai instrumen untuk
menjaga keseimbangan, integrasi, dan keberlangsungan sistem masyarakat. Motif
Sekar Jagad Panca Warna — yang memrepresentasikan lima ikon wilayah (Blimbing,
Kedungkandang, Sukun, Lowokwaru, dan Klojen) serta lima warna selamatan —
merupakan representasi visual yang tepat dari gagasan bahwa perbedaan yang
tersusun secara teratur akan menciptakan keharmonisan sosial. Artikel ini
menguraikan secara deskriptif keselarasan rancangan tersebut melalui dimensi
filosofis, historis, dan sosiologis. Hal ini merupakan ancangan pada tingkat
konseptual, bagaimana realitasnya? Tentu akan berbeda.
Secara
filosofis, kata sekar dalam bahasa Jawa berarti bunga, sedangkan jagad
merujuk pada dunia atau alam semesta. Penafsiran linguistik lain juga
mengaitkan kata sekar dengan kar yang berarti peta, sehingga
Sekar Jagad secara harfiah dimaknai sebagai bunga dunia sekaligus peta dunia.
Kedalaman filosofis rancangan ini diperkaya dengan integrasi tradisi panca
warna yang mengakar pada ritual selamatan masyarakat Jawa melalui media jenang
atau bubur panca warna. Dalam rancangan Batik Sekar Jagad Panca Warna Kota
Malang, lima warna khusus dihadirkan sebagai representasi simbolis dari doa dan
permohonan keselamatan universal: warna hijau merepresentasikan Blimbing di
sisi utara, merah untuk Kedungkandang di sisi timur, hitam untuk Sukun di sisi
selatan, kuning untuk Lowokwaru di sisi barat, dan biru untuk Klojen di pusat
atau tengah tata ruang motif. Keindahan motif ini tidak dihadirkan melalui
keseragaman, melainkan lewat penyusunan kompartemen ruang yang saling mengunci
dan melengkapi. Hal ini merefleksikan pandangan ontologis bahwa keindahan
sejati suatu wilayah lahir dari keragaman karakter lokal yang disatukan dalam satu
kerangka kosmologis dan spiritual yang utuh. Hal ini penafsiran pada tingkat
filosofis, namun bagaimana implementasi di lapangan tentunya dapat
berbeda-beda, karena batik menjadi benda fungsional.
Secara
historis, motif Sekar Jagad memiliki akar yang kuat dalam tradisi keraton Jawa
sejak abad ke-18 sebagai ageman adiluhung yang melambangkan keharmonisan dan
kedewasaan sosial. Dalam rekam jejak perkembangan sejarah kriya tekstil di Kota
Malang, kekayaan motif lokal sebenarnya telah tumbuh subur melalui berbagai
elemen arsitektur, flora, fauna, dan kesenian daerah. Namun, dinamisnya
ekspresi dari perajin yang tersebar di lima kecamatan membutuhkan sebuah media
integratif yang mampu merangkum sejarah peradaban lokal tanpa mengeliminasi
keberadaan motif-motif pendahulu. Sekar Jagad Panca Warna dirancang secara
historis sebagai titik temu akulturasi dan penyatuan narasi lokal. Elemen
sejarah heritage Klojen, kekayaan alam Blimbing, Sukun, Lowokwaru, serta
wilayah Kedungkandang dirajut dalam satu komposisi klasik-kontemporer. Langkah
ini mencerminkan kontinuitas sejarah, di mana motif Sekar Jagad yang dahulu
difungsikan sebagai media peneduh keraton kini ditransformasikan menjadi media
pemersatu identitas kolektif masyarakat Kota Malang di era modern. Pemahaman historis
ini terkait dengan sistem transformatif, bahwa motif batik itu dipresentasikan
atas dasar struktur pola gambar konvensional, tidak ada pengubahan struktur. Hal
ini tentunya bersifat legitimasi, dan ada pemaksaan untuk secara apriori diajukan
untuk diterima.
Perspektif
struktural fungsional memandang masyarakat sebagai sistem kompleks yang terdiri
dari berbagai elemen yang saling tergantung demi menjaga stabilitas dan
keseimbangan sosial. Dalam konteks sosiologis Kota Malang, motif Sekar Jagad
Panca Warna bertindak sebagai analogi visual sebagai model integrasi sosial
(skema AGIL Talcott Parsons). Lima kecamatan yang memiliki batas geografis dan
karakter sosiokultural berbeda dianalogikan sebagai kompartemen isen-isen
yang memiliki keunikan visual masing-masing. Garis pembatas kompartemen dan
struktur tata ruang (utara, timur, selatan, barat, dan tengah) berfungsi
sebagai pranata integratif atau norma sosial yang mengikat keberagaman tersebut
agar tidak saling bertabrakan. Keharmonisan visual yang dihasilkan menciptakan
solidaritas organik yang dirumuskan oleh Émile Durkheim, di mana perbedaan
fungsi serta potensi ekonomi-kreatif di setiap wilayah kecamatan justru saling
membutuhkan untuk membentuk satu identitas daerah dan berdaya saing.
Berdasarkan
analisis deskriptif pada ketiga dimensi di atas, pemilihan nama, bentuk, dan
komposisi Batik Sekar Jagad Panca Warna Kota Malang dibutuhkan penerimaan
aklamasih, setidaknya dilakukan penelitian kuantitatif dengan responten
proposional antara seniman, akademisi, dan masyarakat. Hal ini dibutuhkan untuk
menetapkan kredibilitas dan otentias penerimaan dan kepemilikan; dalam kaitan
tersebut aspek konsisten, dan memenuhi kaidah akademis maupun kebudayaan tentu
akan mengikuti. Konsep dasarnya yang rasional dan sistematis — yaitu lima
kecamatan menghasilkan lima representasi motif, ditautkan dengan lima warna
panca warna, hingga membentuk satu identitas Kota Malang — berhasil mengaitkan
niat luhur permohonan keselamatan dengan manifestasi visual yang kontekstual.
Komposisi ruang yang menempatkan Klojen di tengah sebagai pusat keseimbangan
geografis dan historis menunjukkan kedalaman pertimbangan estetis-semiotik.
Dengan demikian, rancangan naskah akademik motif ini dapat berdiri sebagai
instrumen sosio-kultural yang efektif untuk pendidikan generasi muda, pemajuan
kebudayaan, regenerasi perajin, serta penguatan ekosistem ekonomi kreatif di
Kota Malang.

Posting Komentar untuk "Presentasi Keragaman dalam Sekar Jagad Panca Warna: Analisis Struktural Fungsional Batik Identitas Kota Malang"