Menelanjangi Memori Krisis dalam Balut Gerak “NI-TI-TENI (Wutuh Seng Sempal)”

 


Patry Eko Prasetya; Koreografer (Foto ist.)


Damariotimes. Sebuah karya tari lahir tidak sekadar untuk memamerkan keindahan visual atau ketangkasan fisik di atas panggung, melainkan sebagai wadah pertumpahan ekspresi dan kegelisahan jiwa. Hal inilah yang tebal terasa dalam karya bertajuk NI-TI-TENI (Wutuh Seng Sempal), sebuah pertunjukan tari yang lahir dari pemikiran mendalam sang koreografer, Patry Eka Prasetya. Didukung oleh sentuhan komposisi musik dari Suwarmin serta tata artistik yang dirancang cermat oleh Doyok, sajian bertiga ini menghadirkan perenungan somatik yang tajam mengenai pergulatan tubuh manusia di tengah kepungan tuntutan tradisi dan era modern.

Karya ini berangkat dari pandangan bahwa tubuh adalah gelanggang pertempuran disiplin yang tak pernah benar-benar usai. Tubuh ditempa oleh aturan tradisi yang mengikat, ditarik oleh presisi modernitas yang serba terukur, sekaligus dilarutkan dalam kebebasan kontemporer. Di balik pencapaian dan ekspektasi luar yang membebaninya, tubuh kerap runtuh dan menyisakan bentuk yang tak tuntas, canggung, serta terjebak dalam batasnya sendiri. Melalui NI-TI-TENI (Wutuh Seng Sempal), Patry memilih untuk tidak memamerkan kesempurnaan teknik. Ia justru memilih menelanjangi memori krisis dan ketegangan yang melapisi fisik, mengibaratkan tubuh seperti sosok yang dipaksa tumbuh terlalu cepat ke berbagai arah sebelum sempat menancapkan akarnya dengan kokoh ke tanah.

Kedalaman konsep ini tak lepas dari rekam jejak berkesenian Patry yang panjang dan kaya warna. Pria yang akrab dipanggil Patry ini mengawali langkah kepenariannya dari dunia breakdance saat SMA dan sempat bergabung dengan komunitas Surabaya Kejang pada 2009. Perjalanan akademis dan proses kreatifnya berlanjut di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) hingga Sekolah Tinggi Kesenian Surabaya (STKW). Di Kota Pahlawan, ia aktif mengasah kepekaan artistiknya bersama pelbagai komunitas dan sanggar tari, seperti Sawung Dance Studio, Surabaya Stage Dance, dan Satu Tujuan Kreatif. Pengalamannya kian solid saat dipercaya menjadi penari dalam karya maestro dan koreografer kenamaan, di antaranya Martinus Miroto, Eko PC, Hari Ghulur, Sekar Alit, hingga Santi Pratiwi.

Deretan prestasi dan karya yang pernah ia hasilkan juga mempertegas posisinya di panggung tari nasional. Patry pernah mencatatkan aksi ketahanan berkesenian sebagai penari 12 jam non-stop pada ajang Isola Menari di UPI Bandung (2012), hingga dinobatkan sebagai koreografer muda berbakat di Indonesian Dance Festival (IDF) 2016. Portofolio karyanya membentang luas, mulai dari ORGAN (ISBI Bandung, 2014), JEJALAN (Hari Tari Sedunia ISI Solo, 2014), karya Lebur Sawiji (2015), Fase Tubuh (Bedog Art Festival, 2017), hingga HIPOKRIT (Kendali Sada Fest, 2019). Ia juga berhasil meraih Juara 1 Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Palangkaraya lewat karya Mbarang Jantur (2014), serta terpilih dalam Gelar Koreografer Jawa Timur 2022 melalui karya Tanah Kenangan di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya.

Melalui pendewasaan karya dan rekam jejak tersebut, NI-TI-TENI (Wutuh Seng Sempal) menjadi sebuah titik henti yang jujur. Bersama tim kecil yang solid, karya ini tidak lagi mengejar standar kesempurnaan yang dipatok oleh dunia luar, melainkan menjadi ruang bagi tubuh untuk berhenti sejenak, belajar merasakan, dan kembali menemukan kedaulatannya di atas tanahnya sendiri.

Reporter: R.Dt.

 

 

 

 

 

 

 

1 komentar untuk "Menelanjangi Memori Krisis dalam Balut Gerak “NI-TI-TENI (Wutuh Seng Sempal)”"

  1. Judul yang memainkan unsur bahasa dan identitas lokal menguatkan gagasan tentang keutuhan yang retak, terpecah, namun tetap hadir sebagai fragmen ingatan. Artikel menonjolkan bagaimana koreografi bekerja seperti proses menelanjangi: mengungkap luka, kehilangan, atau trauma, lalu membungkusnya kembali dalam struktur gerak yang puitis dan dramaturgis.

    BalasHapus