![]() |
Abah Kirun bersama Guyon Maton Pimpinan Cak
Percil Sabtu 8 Agustus 2026 menghibur masyarakat Ngadirejo Kecamatan Kromengan
Kabupaten Malang (Foto ist.) |
Damariotimes.
Kromengan, Malang – Gelak tawa dan riuk antusiasme tumpah ruah menghangatkan
Desa Ngadirejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang pada Sabtu (8/8/2026).
Ribuan masyarakat dari Ngadirejo dan sekitarnya berbondong-bondong memadati
lokasi untuk menghibur diri. Tua, muda, laki-laki, hingga perempuan menyatu
tanpa sekat. Tak ketinggalan, jajaran pejabat muspika kecamatan—mulai dari
Camat, Danramil, Kapolsek, hingga para perangkat desa—turut hadir menjadi saksi
kemeriahan acara syukuran keluarga Bapak Juweni, Kepala Desa Ngadirejo.
Demi memanjakan warga, Bapak Juwani sengaja menghadirkan
panggung spektakuler dengan mengundang grup Guyon Maton pimpinan seniman yang
sedang naik daun, Cak Percil, lengkap bersama deretan penyanyi cantiknya.
Kemeriahan makin lengkap dengan kehadiran Cak Slentem, Hengky, Purborini,
Maestro Pelawak Abah Kirun, serta komedian senior Cak Kadir Srimulat. Rangkaian
panggung hiburan ini kemudian dilanjutkan dengan Pergelaran Wayang Kulit oleh
Ki Dalang Minto Dharsono yang didampingi para sinden andalan berparas jelita
dan bersuara merdu.
Malam itu, suasana Desa Ngadirejo benar-benar tampil beda
dari biasanya. Para penonton tumpah ruah membanjiri sepanjang jalanan desa. Ada
yang rela menggelar tikar di tanah, ada yang duduk rapi di kursi yang telah
disediakan oleh tuan rumah, sementara di sisi panggung karawitan dipenuhi oleh
para YouTuber dan kreator konten yang sigap mengabadikan pertunjukan megah
tersebut.
Sapaan khas Cak Percil membuka panggung hiburan dengan
penuh kehangatan. Ia menyampaikan kepada penonton bahwa malam itu ia tidak
sendirian, melainkan tampil bersama sang guru, Abah Sakirun. Tepuk tangan
gemuruh penonton pun langsung menyambut kemunculan sang maestro pelawak asal
Madiun tersebut.
![]() |
| Cak Marsam Hidayat dan Kadir (Foto ist.) |
Abah Kirun membuktikan kelasnya sebagai seniman papan atas.
Dengan gaya yang lugas, lucu, dan cerdas, ia mengawali banyolan dengan menggoda
Kadir Srimulat. "Saiki gawe banyolan model lawas, nek gak lucu bayarane
tak potong satus ewu," goda Abah Kirun. Kadir pun menyahut dengan jenaka, "He
he bayaranku wis lunas, kari limang atus ewu rek... Nek aku salah ping lima,
lak entek bayaranku, he he he!"
Daya spontanitas dan kecerdasan Abah Kirun memang luar
biasa. Sebagai satu-satunya pelawak dengan segudang pengalaman kaya, beliau
selalu mahir menjadi pemantik saat berpasangan dengan siapa saja di atas
panggung. Umpan ceplas-ceplosnya yang sat-set membuat suasana panggung menjadi begitu
hidup, cair, dan menyenangkan.
Di balik riuk panggung, Cak Marsam yang hadir khusus untuk
bertemu Sang Maestro Pelawak asal Madiun, H. Sakirun (Abah Kirun), tak
menyia-nyiakan kesempatan untuk berbincang langsung dengan Cak Kadir Srimulat.
Kebetulan, pertunjukan Guyon Maton Cak Percil malam itu mendapat dukungan penuh
dari Abah Kirun, Slentem, dan Cak Kadir Srimulat.
![]() |
| Foto bersama bersama para seniman (Foto ist.) |
Di meja remang-remang belakang panggung, Cak Marsam dan Cak
Kadir Srimulat terlihat asyik dan gayeng
mendiskusikan seni tradisi ludruk beserta perkembangannya. Berawal dari obrolan
ringan tentang perjalanan karier Cak Kadir—mulai dari musik Gambus, Ketoprak,
Ludruk, hingga merambah ke Lokaria dan Srimulat—diskusi tersebut merambat
hangat pada konsep tata kelola ludruk zaman now. Pelawak ibu kota yang identik dengan logat
Madura tersebut ternyata diam-diam terus mengamati perkembangan ludruk di Jawa
Timur. Beliau bahkan memiliki pandangan menarik untuk menyegarkan kembali
kehidupan kesenian ludruk.
Menurut pelawak kelahiran Kediri tersebut, jika ludruk
ingin tetap laku dan para pemainnya hidup sejahtera, ludruk harus berani
merubah sistem pertunjukan serta tata kelolanya:
· Pemain
sedikit namun bersifat multiguna.
· Memilih
pemain secara selektif berdasarkan pertimbangan kemampuan dan kepantasan.
· Jam
pertunjukan dipadatkan agar lebih efektif.
· Tema
pertunjukan mengedepankan nilai-nilai pendidikan sekaligus hiburan.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Cak Mujiadi, Sutradara
Ludruk Sri Asih Arga Baru Jombang yang juga sangat dekat dengan Abah Kirun.
Menurut Cak Muji, cara efektif untuk membesarkan nama grup ludruk adalah dengan
menghadirkan bintang tamu. Terlebih lagi, Jawa Timur memiliki Abah Kirun
sebagai Sang Begawan Maestro Ludruk yang memiliki nama besar dan sangat
dicintai masyarakat. Oleh karena itu, para ketua grup ludruk tak perlu segan
atau sungkan untuk mendatangkan Abah Kirun sebagai bintang tamu guna
menghidupkan kembali kejayaan kesenian ludruk Jawa Timur.
Konteributor : Cak Marsam



sangat menarik dalam mengangkat eksistensi seni tradisional di tengah perkembangan zaman
BalasHapus