Jejak Perjuangan Cak Sabil Menghidupkan Seni Pertunjukan Tradisi: Ludruk



Cak Sabil sedang berakting (Foto ist.)


Damariotimes. Di tengah arus perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, ketika seni tradisi kerap tersisih oleh budaya populer modern, masih ada sosok-sosok yang setia menjaga nyala warisan leluhur agar tidak padam. Salah satu nama yang patut mendapat apresiasi adalah Cak Sabil, seorang seniman ludruk multitalenta yang tak pernah surut langkahnya dalam menggelorakan semangat perubahan dan pelestarian seni tradisi, khususnya ludruk.

Bagi Cak Sabil, ludruk bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari napas hidup yang telah tumbuh sejak masa remaja. Kecintaan itu begitu mengakar hingga membawanya menempuh perjalanan panjang dari Blitar, kota asalnya, menuju Malang, lalu berlanjut ke Surabaya. Hijrah tersebut bukan semata perpindahan tempat, tetapi juga bentuk pengabdian pada seni yang diyakininya harus terus hidup di tengah masyarakat, meski para penggemar generasi lama satu per satu mulai tiada.

Di Malang, kiprah Cak Sabil semakin menonjol. Ia pernah menjadi pengurus inti Ludruk Madep Mantep bersama Topan Sugianto dan Andik Sadirun. Dalam peran itu, beliau  juga sebagai penggerak organisasi yang berupaya menjaga eksistensi ludruk di tengah tantangan zaman. Keaktifannya di dunia seni juga beriringan dengan kiprahnya di dunia media. Cak Sabil yang juga dikenal dengan nama Sabil Putu Kahar pernah lama menjadi presenter di Malang TV dalam acara NONGGO Jae Kraton, sebuah program yang sempat viral dan melekat di ingatan masyarakat melalui ikon “itik-itik Jae Kraton”.

Popularitasnya di layar kaca tidak membuatnya meninggalkan panggung seni tradisi. Justru, Cak Sabil berhasil membawa semangat ludruk ke ruang yang lebih luas. Ia adalah seniman yang memahami dramaturgi dengan sangat baik, sekaligus memiliki kemampuan akting yang kuat dan khas. Salah satu penampilan yang paling dikenang adalah ketika ia memerankan tokoh Mualim, kakak Sarip, dalam lakon Sarip Tambak Oso Lerok Anyar di Pendopo Taman Krida Budaya Malang.

Pada malam pertunjukan itu, penampilan Cak Sabil berpasangan dengan Mama Chandra menuai apresiasi luar biasa. Keduanya berhasil menghadirkan nuansa segar yang memperlihatkan wajah ludruk yang lebih modern, lebih kontekstual, dan dekat dengan realitas kekinian. Perubahan inilah yang sejak lama menjadi cita-cita Cak Sabil: menjadikan ludruk tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.

Dalam versi garapan Sarip Tambak Oso oleh Cak Marsam, tokoh Mualim dan istrinya tampil sebagai sosok pembaharu. Mereka bukan sekadar karakter pendukung yang berjalan di jalur konvensional, melainkan figur-figur cerdas yang mampu membaca perubahan zaman. Dialog-dialog yang dibawakan dipenuhi sentilan kritik sosial yang tajam, namun tetap dikemas dengan jenaka, segar, dan menghibur. Di tangan Cak Sabil, tokoh Mualim menjadi lebih hidup dan memiliki daya tafsir yang kuat terhadap pesan sosial yang ingin disampaikan sutradara.

Jika dalam versi klasik Mualim biasanya hanya digambarkan sebagai kakak Sarip yang tidak setuju atas tindakan adiknya sebagai pencuri, maka dalam versi baru ini tokoh tersebut berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia hadir sebagai tokoh pergerakan yang berpihak pada rakyat kecil. Sementara istrinya, yang lazimnya hanya digambarkan sebagai ibu rumah tangga biasa, ditampilkan sebagai perempuan yang mendukung perjuangan dan keberanian Sarip. Pasangan Cak Sabil dan Mama Chandra sukses menerjemahkan visi pembaruan itu dengan sangat meyakinkan.

Salah satu adegan yang paling berkesan adalah ketika tokoh Mualim diperankan membaca koran zaman Belanda yang memberitakan aksi Sarip mencabut patok-patok tambak yang dipasang pemerintah kolonial. Berita itu juga mengabarkan keberanian Sarip melawan opas Belanda dan lurah Gedangan. Adegan sederhana tersebut menjadi simbol kecerdasan dramaturgi yang dihadirkan Cak Sabil—mampu menghubungkan sejarah, kritik sosial, dan kekuatan dramatik dalam satu panggung.

Setelah beberapa lama berkarya di Surabaya, semangat kreatif Cak Sabil terus menemukan bentuk-bentuk baru. Ia aktif di media sosial dengan berbagai karya seperti Kudungan Jula Juli, cengkok, serta ragam kreativitas yang tetap berakar pada budaya ludruk. Kehadirannya di ruang digital menunjukkan bahwa seni tradisi tidak harus terkungkung di panggung konvensional. Justru, melalui media baru, ludruk dapat menjangkau generasi muda yang selama ini mungkin terasa jauh dari kesenian tradisional.

Setelah pensiun dari Malang TV, Cak Sabil menetap di Surabaya dan semakin fokus membina generasi penerus. Ia kini menjadi pembina Ludruk Medang Taruna Budaya bersama Bu Yuni. Berkat kerja keras dan dedikasinya, kelompok ini kerap tampil di berbagai panggung bergengsi, seperti Balai Pemuda dan TVRI Stasiun Surabaya. Ini menjadi bukti bahwa ludruk masih memiliki ruang hidup yang kuat selama ada orang-orang yang bersedia merawatnya dengan sepenuh hati.

Belakangan, Cak Sabil juga sering hadir sebagai narasumber di berbagai forum diskusi tentang perkembangan dan pemajuan ludruk. Namanya kerap muncul dalam program budaya seperti Lontong Balap di RRI Surabaya serta siaran Ludruk TVRI Stasiun Surabaya. Bahkan, pada 14–15 April 2026, ia menjadi narasumber dalam Pelatihan Teater Tradisi yang diselenggarakan oleh UPT Laboratorium Pengembangan dan Pelatihan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur bersama Dr. Musthofa Kamal dan Dohir Herlianto Sindu.

Sebagai seniman yang supel, terbuka, dan berwawasan luas, Cak Sabil mampu berbaur dengan berbagai komunitas seni. Jejaringnya tidak hanya terbatas pada seniman ludruk di Jawa Timur, tetapi juga meluas ke komunitas yang banyak melibatkan kaum muda dan kalangan terpelajar. Di sinilah letak kekuatan utamanya: menjembatani tradisi dengan generasi masa kini.

Konsistensi Cak Sabil dalam menggelorakan semangat perubahan layak diapresiasi setinggi-tingginya. Di tengah tantangan zaman, ia membuktikan bahwa seni tradisi tidak harus menjadi kenangan masa lalu. Dengan kreativitas, keberanian berinovasi, dan dedikasi yang tulus, ludruk tetap dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi baru untuk mencintai budaya bangsanya sendiri. Semangat yang dibawanya adalah bukti bahwa api ludruk masih menyala—dan selama ada sosok seperti Cak Sabil, nyala itu tidak akan pernah padam.

 

Konteributor : Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Jejak Perjuangan Cak Sabil Menghidupkan Seni Pertunjukan Tradisi: Ludruk"