![]() |
| Abah Kirun bersama penulis (Marsam Hidajat) (Foto ist.) |
Damariotimes.
Dunia seni pertunjukan tradisional Indonesia, khususnya di Jawa Timur, tidak
akan pernah bisa dilepaskan dari sosok karismatik Haji Sakirun. Pria yang lebih
akrab disapa Abah Kirun ini bukan sekadar pelawak yang memancing tawa di atas
panggung, melainkan seorang maestro yang menjadikan kreativitas sebagai napas
kehidupan sehari-hari. Baginya, ide cemerlang tidak hanya lahir saat lampu
sorot menyinari wajahnya di depan penonton, tetapi muncul dalam setiap helaan
napas dan situasi apa pun. Abah Kirun adalah representasi seniman sejati yang
memahami bahwa esensi dari seni adalah pengabdian, dan puncak dari kreativitas
adalah kemampuannya untuk memberi manfaat bagi sesama, terutama di saat-saat
sulit.
Memasuki bulan suci Ramadhan tahun 2026, sebuah fenomena
menarik terjadi di jagat seni tradisi. Ketika banyak pelaku seni harus
menghadapi kenyataan pahit berupa "puasa kerja" karena minimnya
jadwal panggung selama bulan puasa, Abah Kirun justru bergerak melawan arus
dengan cara yang elegan dan religius. Beliau tidak membiarkan kelesuan ekonomi
memadamkan semangat para seniman. Melalui tangan dinginnya, lahir sebuah
inisiatif kreatif bertajuk "Gugah Saur", sebuah acara siaran langsung
yang dikemas secara apik dan berhasil menyedot perhatian jutaan pasang mata.
Program ini bukan sekadar hiburan pengantar sahur, melainkan sebuah jembatan
spiritual dan kultural yang menyatukan masyarakat melalui layar kaca, sekaligus
menjadi wadah bagi para seniman untuk tetap berkarya di tengah bulan yang penuh
berkah.
Kejeniusan Abah Kirun tidak berhenti pada layar kaca
semata. Di balik kemeriahan acara tersebut, terdapat sebuah gerakan kemanusiaan
yang menyentuh relung hati. Di Padepokan Seni Kirun yang asri, beliau
mengundang para seniman dari berbagai penjuru Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk
duduk bersama, menikmati santap sahur dalam suasana kekeluargaan yang kental.
Antusiasme para seniman dari berbagai daerah ini bukan sekadar karena hidangan
yang tersaji, melainkan karena rasa dihargai dan diayomi oleh sang maestro.
Abah Kirun menunjukkan bahwa seorang "Empu Ludruk" tidak hanya
bertugas melestarikan pakem kesenian, tetapi juga menjaga kesejahteraan dan
martabat para pelaku seninya.
![]() |
| Abah Kirun sangat akrab dan dermawan (Foto ist.) |
Dalam perhelatan "Gusur" atau Gugah Saur tahun
ini, sisi kedermawanan Abah Kirun semakin nyata terlihat. Hobi beliau yang
paling menonjol—yakni menyenangkan orang lain—termanifestasi melalui pembagian
Tunjangan Hari Raya (THR) dan paket sembako kepada para seniman. Ini adalah
wujud nyata dari cinta dan perhatian mendalam beliau terhadap ekosistem ludruk
dan kesenian tradisional lainnya. Informasi yang dihimpun dari tokoh-tokoh
seperti Cak Muji menunjukkan betapa masifnya jangkauan bantuan ini. Seniman
dari Solo, Magelang, Yogyakarta, Ponorogo, Lumajang, hingga Malang turut
merasakan berkah tersebut. Abah Kirun mempercayakan distribusi ini kepada para
koordinator di tiap daerah agar bantuan sampai ke tangan yang tepat, mulai dari
pemain ketoprak, penari, aktor teater, pengrawit, hingga praktisi ludruk.
Di Malang, semangat ini disambut dengan luar biasa oleh Cak
Marsam Hidayat. Begitu menerima amanah dari Abah Kirun, beliau langsung
bergerak cepat mengundang para seniman ludruk setempat ke kediamannya.
Pertemuan di rumah Cak Marsam ini kemudian berubah menjadi momen yang sangat
emosional dan produktif. Bingkisan dari Abah Kirun ternyata memiliki kekuatan
magis sebagai alat konsolidasi. Para seniman yang mungkin selama ini jarang
berkomunikasi atau bahkan sempat berselisih paham, tiba-tiba duduk melingkar
dalam satu tekad yang sama. Di sana, para dagelan, penari, dan pengrawit saling
berbagi pengalaman, mendiskusikan seluk-beluk perkembangan ludruk, dan merajut
kembali tali persaudaraan yang sempat merenggang. Kebaikan Abah Kirun telah
menjadi perekat bagi retaknya hubungan antar-personal di kalangan seniman.
Kepedulian Haji Sakirun terhadap masa depan ludruk memang
melampaui logika materi semata. Beliau adalah sosok yang pernah merasakan pahit
getirnya kehidupan sebagai seniman "Ludruk Gedongan", sehingga beliau
sangat memahami apa yang dibutuhkan agar kesenian ini tetap bernapas.
Bantuan-bantuan fisik seperti kelir (layar panggung), gamelan, hingga
kostum-kostum mewah telah banyak beliau gelontorkan secara cuma-cuma. Impiannya
hanya satu: melihat ludruk kembali mencapai masa kejayaannya sebagaimana era
enam puluhan, saat beliau masih muda dan penuh ambisi. Bagi Abah Kirun,
kesuksesan finansial yang diraihnya saat ini tidak ada artinya jika tidak
digunakan untuk mengangkat kembali derajat kesenian yang telah membesarkan
namanya.
Keteladanan Abah Kirun sebagai tokoh panutan di jagat raya
seni tradisi memang tidak ada duanya. Beliau mewujudkan falsafah hidup bahwa
sukses adalah ketika kita bisa membawa berkah bagi orang lain. Kedekatan beliau
dengan mendiang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan keluarganya tampaknya
memberikan pengaruh spiritual yang mendalam. Sifat Gus Dur yang penuh cinta
kasih, inklusif, dan humanis seolah-olah mengalir dalam darah Abah Kirun.
Beliau mempraktikkan politik kemanusiaan melalui jalur seni, di mana perbedaan
latar belakang disatukan oleh tawa dan rasa saling peduli.
Kiprah Haji Sakirun adalah pengingat bagi kita semua bahwa
empati adalah kualitas tertinggi dari seorang manusia. Di atas panggung, beliau
adalah maestro yang mengocok perut dengan banyolan cerdasnya, namun di luar
panggung, beliau adalah seorang bapak, sahabat, dan pelindung bagi ribuan
seniman yang sedang berjuang. Dedikasinya dalam melestarikan ludruk bukan
sekadar tentang menjaga naskah atau gerakan tari, melainkan tentang menjaga
nyawa dan dapur para senimannya agar tetap mengepul. Semoga semangat Abah Kirun
ini menular kepada generasi muda, agar seni tradisi tidak hanya menjadi museum
yang mati, tetapi tetap hidup sebagai identitas bangsa yang penuh dengan
nilai-nilai luhur dan kasih sayang.
Kontributor: Cak
Marsam


Sungguh menginspirasi kisah Abah Kirun, maestro kemanusiaan dari Madiun yang meninggalkan jejak kasih melalui kreativitasnya di bulan suci Ramadhan.
BalasHapusArtikel ini sangat menginspirasi, menggambarkan sosok Abah Kirun sebagai seniman penuh kasih yang mengabdikan kreativitasnya untuk kemanusiaan dan nilai spiritual, terutama di bulan suci.
BalasHapusKisah Abah Kirun menginspirasi melalui kepedulian dan kreativitasnya, menjadikan seni sebagai sarana berbagi dan memperkuat solidaritas sesama.
BalasHapusCerita hangat tentang kasih sayang dan kreativitas Abah Kirun, menghidupkan seni melalui kisah personal.
BalasHapusabah kirun sanggat menginspirasi saya
BalasHapusAbah Kirun dikenang sebagai sosok yang menggabungkan kasih dan kreativitas, sehingga seni tetap hidup dan menginspirasi.
BalasHapusDari artikel diatas kisah Abah kirun sangat menginspirasi yang menghidupkan seni melalui kreativitasnya
BalasHapusartikel ini memperlihatkan bagaimana seni tradisi dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, sekaligus pengabdian sosial
BalasHapusbeliau adalah maestro yang mengocok perut dengan banyolan cerdasnya, namun di luar panggung, beliau adalah seorang bapak, sahabat, dan pelindung bagi ribuan seniman yang sedang berjuang. Dedikasinya dalam melestarikan ludruk
BalasHapusArtikel ini sangat menyentuh karena menampilkan sisi kemanusiaan dan kreativitas Abah Kirun dari Madiun. Kisahnya di bulan suci menjadi pengingat bahwa seni tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana berbagi kasih, nilai, dan kepedulian sosial. Sebuah teladan yang hangat dan inspiratif.
BalasHapusArtikel yang sangat menarik
BalasHapusArtikel ini sangat menginspirasi. Sosok Abah Kirun digambarkan bukan hanya kreatif dalam berkarya, tetapi juga penuh kasih dan kepedulian kepada sesama. Keteladanan seperti ini patut diapresiasi dan menjadi inspirasi banyak orang.
BalasHapus