Kolaborasi H. Marsam Hidajat dan Robby Hidajat dalam Buku Tentang Primadona Tandhak Ludruk di Malang

 

cak H. Marsam Hidajat penulis buku tentang ludruk di Malang (Foto ist.)


Damariotimes. Dunia seni pertunjukan tradisional di Jawa Timur, khususnya Ludruk Malangan, tengah bersiap menyambut sebuah sumbangsih intelektual yang mendalam. Dua sosok penting dalam peta kebudayaan Malang, H. Marsam Hidajat dan Robby Hidajat, kini tengah bersinergi untuk mengabadikan denyut nadi panggung rakyat ke dalam lembaran buku. Proyek literasi ini bukan sekadar pendokumentasian sejarah, melainkan sebuah upaya untuk menangkap estetika, perjuangan, dan spiritualitas di balik gemerlap lampu panggung tobong.

H. Marsam Hidajat, atau yang akrab disapa Cak Marsam, membawa seluruh beban pengalaman hidupnya yang kaya ke dalam tulisan ini. Sebagai sosok yang lahir dan besar dalam ekosistem seni sejak tahun 1975, perjalanan estetikanya yang bermula dari kawasan sakral Gunung Kawi hingga ke panggung-panggung besar seperti Ludruk Wijaya Kusuma, memberikan perspektif orang dalam yang tak ternilai. Cak Marsam bukan hanya seorang praktisi yang piawai menari Remo atau menyusun parikan, namun ia adalah penjaga nyala api tradisi yang pernah mengecap pahit getirnya kehidupan seniman, bahkan hingga sempat merantau ke mancanegara sebelum akhirnya kembali mengabdi di Dewan Kesenian Kabupaten Malang.

Di sisi lain, kolaborasi ini diperkuat oleh ketajaman akademis dan artistik Robby Hidajat. Bersama-sama, mereka membidik satu fenomena unik dalam jagat Ludruk: kehidupan seorang tandhak. Melalui buku yang sedang dipersiapkan ini, mereka mengangkat sosok Amin Naryo, yang lebih dikenal dengan nama panggung Mama Chandra. Kisah ini menjadi pusat gravitasi narasi mereka, menggambarkan transformasi seorang remaja dari Dusun Bendo Kidul menjadi sosok primadona yang legendaris di panggung Ludruk Malang.

Esai deskriptif yang mereka susun mengalir mengikuti jejak kaki Mama Chandra dari satu tobong ke tobong lainnya. Pembaca akan diajak menyelami masa kecil Naryo yang lahir pada Jumat Pahing tahun 1964, seorang bocah dengan paras halus yang memilih jalan hidup mandiri di bawah asuhan maestro Cak Karman. Buku ini secara puitis sekaligus realistis memotret bagaimana aroma bedak panggung yang menyengat dan debu lapangan menjadi saksi bisu "sekolah kehidupan" bagi seorang tandhak. Identitas yang bagi sebagian orang dianggap anomali, justru di tangan mereka diurai sebagai cahaya yang menghidupkan tradisi.

Persiapan buku ini menjadi sangat krusial mengingat posisi Cak Marsam yang sebelumnya telah sukses merilis "Kidungan Keluyuran" pada tahun 2021. Dengan menggandeng Robby Hidajat, karya terbaru ini diharapkan menjadi jembatan antara realitas empiris seniman di lapangan dengan analisis budaya yang mendalam. Mereka berusaha membuktikan bahwa Ludruk Lerok Anyar, yang mereka bina bersama, bukan sekadar kelompok pertunjukan, melainkan sebuah ruang inkubasi budaya yang terus bergerak maju.

Melalui buku ini, Marsam dan Robby seolah ingin menegaskan bahwa sejarah Ludruk Malang tidak boleh hanya menguap bersama suara kendang di akhir pertunjukan. Mereka sedang menyusun sebuah monumen tertulis agar generasi muda dapat memahami bahwa di balik setiap tarian dan lelucon, terdapat dedikasi tanpa batas dan harga diri yang dipertaruhkan. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa "getaran realitas" budaya Malangan tetap memiliki tempat yang terhormat dalam khazanah literasi nasional.

 

Reporter : MAH

 

11 komentar untuk "Kolaborasi H. Marsam Hidajat dan Robby Hidajat dalam Buku Tentang Primadona Tandhak Ludruk di Malang"

  1. Kolaborasi hebat! Buku yang sangat berharga untuk melestarikan identitas budaya Malang. Salut untuk Pak Marsam dan Pak Robby.

    BalasHapus
  2. Artikel ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara praktisi dan akademisi dalam mendokumentasikan seni ludruk. Karya ini menjadi upaya berharga untuk menjaga ingatan budaya dan memperkenalkan peran primadona *tandhak* kepada generasi muda.

    BalasHapus
  3. Menceritakan sinergi H. Marsam Hidajat dan Robby Hidajat, dua tokoh budaya Malang, dalam mengabadikan "denyut nadi" seni tradisional melalui buku tentang primadona tandhak.

    BalasHapus
  4. Kolaborasi ini menonjolkan sinergi praktik dan wawasan akademis untuk mendokumentasikan sejarah dan estetika ludruk, memperkuat literasi budaya serta menjaga warisan seni tradisional agar tetap hidup dan relevan.

    BalasHapus
  5. Dyta Anniza Nafiatul Ulya24 Februari 2026 pukul 07.33

    Artikel ini menunjukkan kolaborasi yang menarik antara H. Marsam Hidajat dan Robby Hidajat dalam menulis buku tentang seni tradisional ludruk Malang. Upaya mereka membantu melestarikan budaya lokal dan menceritakan kisah tokoh penting dengan cara yang inspiratif

    BalasHapus
  6. Dari artikel ini saya belajar bagaimana pentingnya kaloborasi

    BalasHapus
  7. Sinergi praktik dan teori ini memperkaya khazanah budaya nasional, relevan bagi pelestarian seni pertunjukan pedesaan.

    BalasHapus
  8. Artikel ini sangat bernilai karena mengangkat kolaborasi visioner antara H. Marsan Hidajat dan Robby Hidajat dalam mendokumentasikan primadona tandhak ludruk di Malang. Buku ini bukan sekadar karya tulis, tetapi juga bentuk pengabdian nyata untuk menjaga ingatan kolektif dan martabat seni tradisi. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa sinergi antara pelaku seni dan akademisi mampu memperkuat pelestarian budaya secara lebih mendalam dan berkelanjutan.

    BalasHapus
  9. Kolaborasi antara H. Marsam Hidajat dan Prof. Dr. Robby Hidajat menjadi contoh sinergi yang sangat inspiratif dalam pengembangan seni dan budaya. Semoga kerja sama seperti ini terus melahirkan gagasan kreatif yang memperkaya khazanah seni di Indonesia.

    BalasHapus
  10. ANIFA ZENI FITRIANI11 Maret 2026 pukul 05.15

    Artikel diatas menunjukkan pentingnya kolaborasi untuk menonjolkan sinergi praktik dan wawasan akademis untuk mendokumentasikan sejarah dan estetika ludruk serta dapat memperkuat literasi budaya

    BalasHapus
  11. kolaborasi H. Marsam Hidajat dan Robby Hidajat dalam menulis buku tentang dunia Ludruk Malangan. Buku tersebut mengangkat kisah perjalanan Mama Chandra sebagai tandhak ludruk, sekaligus menjadi upaya mendokumentasikan pengalaman, estetika, dan perjuangan seniman tradisional agar tetap dikenal dan dilestarikan

    BalasHapus