Pesona Spiritual di Balik Kemilau Emas Batu Caves


penulis di depan patung Dewa Murugan (Foto ist.)


Damariotimes. Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan menginjakkan kaki di salah satu pusat spiritual paling menakjubkan di Malaysia, yakni Batu Caves. Rasanya kurang lengkap jika berkunjung ke Kuala Lumpur tanpa menyambangi tempat ini, sebab selain Menara Kembar Petronas, kawasan ini telah menjadi ikon global yang menawarkan perpaduan magis antara keindahan alam gamping dan kemegahan budaya Hindu. Begitu tiba di pelataran luasnya, mata saya langsung tertuju pada sosok raksasa yang berdiri gagah dengan kilau keemasan yang menyilaukan di bawah terik matahari. Patung Dewa Murugan setinggi 42 meter itu tampak begitu agung; sebagai dewa perang sekaligus pelindung bangsa Tamil dalam mitologi Hindu, patung ini memegang predikat sebagai yang terbesar kedua di dunia.

Kawasan Batu Caves bukan sekadar destinasi wisata potret semata, melainkan sebuah situs peribadatan yang sarat sejarah sejak ditetapkan oleh K. Thamboosamy Pillai pada tahun 1890. Area ini bernapas dalam dinding-dinding bukit batu gamping kuno yang usianya diperkirakan telah melampaui 400 juta tahun. Atmosfer spiritualnya memuncak setiap tahun saat festival Thaipusam digelar, mengubah kesunyian bukit menjadi lautan manusia yang penuh pengabdian. Meskipun lokasinya berada di daerah berbukit di sebelah utara Kuala Lumpur, akses menuju ke sana tergolong sangat mudah. Saya dan istri memilih menggunakan KTM Komuter dari KL Sentral dengan harga tiket yang sangat terjangkau, meskipun kami harus sedikit bersabar menyesuaikan diri dengan jadwal kereta yang datang setiap satu jam sekali.

Pengalaman mengunjungi tempat suci ini menuntut persiapan dan etika tertentu. Karena ini adalah tempat ibadah yang aktif, mengenakan pakaian sopan dan tertutup adalah kewajiban yang tak tertulis bagi setiap pengunjung. Bagi pria, celana panjang adalah pilihan terbaik, sementara para wanita disarankan menghindari pakaian terbuka guna menghormati kesakralan kuil. Waktu terbaik untuk datang adalah saat fajar menyingsing atau menjelang sore hari, bukan hanya untuk menghindari sengatan matahari yang membakar siang hari di Malaysia, tetapi juga untuk mendapatkan sudut pandang foto yang lebih bersih dari kerumunan wisatawan.

Perjalanan sesungguhnya dimulai saat kita menaiki 272 anak tangga yang kini dicat warna-warni menuju Temple Caves. Di sepanjang tangga, kera-kera ekor panjang tampak bersantai di sisi kanan dan kiri, menanti uluran tangan pengunjung yang ingin memberi makan. Pemandangan ini memberikan keunikan tersendiri, di mana interaksi antara manusia dan satwa terjadi secara alami, meskipun para penjaga sebenarnya telah menyediakan pisang di beberapa sudut tertentu untuk memastikan kera-kera tersebut tetap terpelihara.

Ada detail unik yang sering kali terlewatkan dalam brosur wisata namun sangat terasa saat berada di lokasi. Berfoto di depan kemegahan patung Dewa Murugan memang merupakan agenda wajib, namun kita harus bersiap dengan kehadiran ratusan burung merpati yang memenuhi pelataran. Meskipun mereka menambah estetika dalam jepretan kamera, kehadiran mereka membawa tantangan tersendiri berupa bau kotoran yang menyengat. Oleh karena itu, mengenakan masker bukan hanya soal menjaga kesehatan, melainkan kebutuhan praktis untuk kenyamanan indra penciuman selama menikmati keindahan arsitektur dan aroma dupa yang menyeruak di antara celah-celah bukit gamping yang eksotis tersebut.

 

Reporter: Suci N.

Posting Komentar untuk "Pesona Spiritual di Balik Kemilau Emas Batu Caves"