Soleh Unyil Kutuloncat dari Komunitas Pencak Silat ke Panggung Ludruk, jadi Pelawak

Unyil yang juga seringkali tampil sebagai MC Campursari pada pagelaran wayang kulit (Foto Ist.)
         DAMARIOTIMES - Muhammad Soleh  yang tinggal Jl Letjen Sutoyo, RT 001/, RW 003 Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang ini meruapakan salah satu seniman di lingkungan ludruk Malang. Mungkin tidak banyak yang mengenal, karena baru menerjuni dunia perludrukan sekitar tahun 1980-an. Semula tidak ada pikiran untuk ingin jadi pelawak, karena hobbynya adalah beladiri pencak silat.

Muhammad Soleh adalah putra Pak Waseso dengan Mbok Mastikah. Selama ini dikenal sebagai ‘pendekar’  di lingkungan kelompok pencak silat. Sungguhpun tidak terlalu menonjol, karena tubuhnya tidak tampak sebagai atlit beladiri. Sehingga dilingkungan komunitas pencak silat itu lebih sebagai penggembira, utamanya pada penampilan atraksi. Bukan sebagai pendekar yang memperagakan gerakan Kembangan, namun sebagai tukang nembang (penyayi) yang nembang Jawa. Semua teman-teman pendekar pencak silat mengakui kalau Muhammad Soleh memang punya suara yang merdu.

Muhammad Soleh mengaku, pertamakali punya niat jadi pelawak itu ketika pada suatu malam bermimpi didatangi Cak Buari. Cak Buari merupakan salah satu pelawak Ludruk Armada yang cukup terkenal di Malang. Sejak saat itu, kegiatannya di lingkungan komunitas pencak silat mulai dikurangi, dan mulai ikut perkumpulan ludruk.

Pada suatu ketika ada acara di kampungnya, sudah siap menyajikan atraksi campursari untuk meramaikan acara.  Entah sepeti apa ceritanya, MC ternyata tidak dapat datang. Beberapa panitia mendorong Muhammad Soleh untuk mencoba jadi MC

Muhammad Soleh pelawak ludruk yang dikenal dengan julukan Uyil (Foto Ist.)

Sebenarnya nyalinya sangat kecil, namun tidak ada alasan untuk menolah. Ketika Muhammad Soleh tampil memegang maicropun, secara spontan membuat penonton tertawa, mulai saat itu dia belajar menjadi MC. Setiap Muhammad Soleh menjadi MC selalu  ditertawakan penonton, katanya mbanyol (lucu), bahkan beberapa penonton tidak dapat menahan tawa, terpingkal pingkal, malah ada penonton yang nyeletuk, oh pancen dagelan Unyil.

Tahun 1998. Muhammad Soleh yang bertekat untuk ikut perkumpulan ludruk. Perannya hanya sebagai figuran, utamanya sebagai tukang Gontok, karena mampu beladiri. Sungguhpun demikian karakteristiknya yang lucu, penampilan yang seringkali mengundang ketegangan itu juga tetap terasa lucu.

Bagaikan menyelam sambil minum air, Unyil yang masih  dipercaya sebagai  wayang Kepruk. Namun tidak patah semangat, Unyil mempelajari berbagai karakter pemain, utamanya tampilan para pelawak yang dianggap lucu. Proses nyebeng inilah menemukan Panggung yang pas sebagai pelawak.

 

Reporter          : Marsam Hidayat
Editor              : Harda Gumelar

Posting Komentar untuk "Soleh Unyil Kutuloncat dari Komunitas Pencak Silat ke Panggung Ludruk, jadi Pelawak"